What's done in the DARK will surely come to the LIGHT :)

Senin, 07 September 2009

de wolken - langit

aku sedang asik bermain mobil-mobilan di kamarku dengan masih mengenakan pakaian kesayanganku yang bergambar spiderman. kemudian dari arah pintu, Ibu datang menghampiriku lengkap dengan senyumnya yang hangat. Dia menjulurkan tangannya padaku dan segera saja aku meraih tangan yang berjari lentik itu. Lalu dia menggandeng tangan kecilku yang masih memegang mobil-mobilan. Sambil berjalan ke luar, dia tersenyum sangat manis dan berkata,

"kamu tahu? kita akan bermain di padang rumput yang luaaaaas sekali dengan langit sebagai atapnya dan rumput hijau sebagai lantainya"

Dia menatapku dengan senyuman mengejek. Ya, tentu saja senyum ejekan itu muncul karena Ibu tahu bahwa aku sama sekali tidak mengerti dengan apa yang baru saja dikatakannya. Ditambah lagi raut muka ku yang datar dan lugu ketika mendengar ucapan ibu. Tapi dia tidak membiarkanku berlama-lama dalam kondisi kebingungan.

"pokoknya kamu dapat bermain dengan bebas di sana, tanpa tembok-tembok kekar yang biasanya menjadi penghalang kalau kamu bermain di rumah."

setelah kurang lebih memakan waktu setengah jam perjalanan, Ibu dan aku sampai di padang rumput yang ternyata, wooow sangat hangat dan luas sekali. Matahari yang bersinar sore itu memantulkan warna rumput yang hijau. mmmmhhh... aku sampai harus memejamkan mata dan menarik nafas panjang untuk menikmati cuaca yang hangat lengkap dengan bau rerumputan yang segar. kemudian Ibu berjalan sambil tetap menggandeng tanganku. Saat itulah aku sadar bahwa aku sudah meninggalkan mobil-mobilanku di dalam mobil Ibu.

Setelah menemukan tempat untuk beristirahat, kami duduk di atas rumput yang bergoyang tertiup angin. Lalu Ibu berbaring di atasnya. Aku pun mengikuti Ibu berbaring di atas rumput. Ku lihat Ibu sangat menikmati awan-awan yang bergerak di atas sana, kemudian dia menatapku sambil tersenyum dan bertanya,

"apa yang kamu lihat di atas sana?"

Aku terus menatap ke langit berusaha mencari jawaban atas pertanyaan ibu. Aku hanya melihat segumpalan awan putih yang berarak dan terkadang menutupi matahari. Tapi untuk apa Ibu bertanya demikian kalau jawabannya pun sudah pasti dapat dilihatnya sendiri. Pasti jawabannya bukan hanya segumpalan awan tapi lebih daripada itu. Aku pun memejamkan mata. Berharap setelah aku membukanya kembali, ada hal lain yang dapat aku lihat di atas sana. tapi percuma, aku tetap hanya melihat segumpalan awan. Lagi-lagi aku memejamkan mata, dan sebelum membukanya aku berhitung terlebih dahulu,

"1..2..3..4..5.."

Dan aku mulai melihat cahaya putih yang sangat silau tepat di atasku. Kali ini aku tidak hanya membuka mata tapi juga membelalakan mata. Aku melihat Ibu dengan senang dan melihat langit lagi. Aku telah menemukan jawaban atas pertanyaan ibu,

"Di sana aku melihat Scandinavie, Bu!!!"
"Lalu di sebelahnya terdapat itik-itik yang berbaris rapih, sangat rapih, Bu!!!"
"Hey!!! di sana juga ada seorang wanita yang cantik, tapi tidak lebih cantik dari Ibu."
"Di sebelah sana ada domba-domba yang sedang digiring oleh pengembalanya, Bu!!!"

Aku sangat takjub dan kehabisan kata-kata. Semua yang aku lihat merupakan sebuah keajaiban yang terpaksa harus aku untai menjadi kata-kata untuk menjawab pertanyaan ibu. Semua keajaiban itu mengapung di sana, tepat di atasku. Dengan perasaan yang masih senang aku melihat Ibu yang masih berbaring disampingku. Dan apa yang aku lihat sekarang? Ibu menangis. Air mata membasahi pipinya dalam balutan senyum yang terbentuk di bibirnya.

Selasa, 16 Juni 2009

dejavu

ku buka lembar demi lembar buku itu perlahan-lahan, terdengar suara khas kertas yang sedang dibolak-balik, hmmm... aku sedang membaca buku Seira & Abel's Secret. menurutku bukunya menarik, penuh imajinasi. ketika aku sedang membuka lembaran berikutnya, suara yang keluar bukan lagi suara kertas yang sedang kubalik, tapi suara petir! nyaring, sampai aku tersentak. suara kertas itu teredam oleh suara si petir. aku menutup bukuku, menyimpannya di bawah bantalku, dan ku alihkan pandanganku ke jam dinding yang tepat bertengger di depanku. "jam setengah 12 malam dan aku masih belum juga bisa tidur" gumamku saat itu. ku lihat hp 6100 ku dan ku putar playlistnya. dan lagi-lagi suara petir nyaring berteriak di luar sana, suara lagu yang sedang berputar pun jadi tak jelas terdengar. ketika suara petir menghilang aku melihat lagi 6100 ku dan dilayarnya jelas tertera "lucky-feat colbie caillat-03.10" mmmh... lagi lagi lagu itu yang terpasang. tadinya aku ingin mengganti dengan lagu yang lain, tapi yasudahlah, nanti juga ganti sendiri, pikirku ketika itu. lalu, dari arah luar kamarku mulai terdengar suara rintik-rintik hujan. suara itu kian lama kian membesar dan sekarang yang terdengar bukan lagi suara rintik-rintik, tapi suara tumpahan air yang jatuh dari langit. yaa... di luar sana hujan deras. aroma khas tanah basah pun mencuat dan masuk ke dalam kamarku. "mmmmhhh...." aku menikmati aromanya. sangat menikmati. aku rasa suasana seperti ini akan menjadi lebih nikmat kalau aku membaca kembali bukuku tadi.
ku ambil buku itu dari bawah bantalku, ku rebahkan tubuhku di atas kasurku yang mulai dingin, dan ku tarik selimut tebalku hingga mencapai leherku. aku kembali membuka buku Seira & Abel's Secret, baru satu lembar kubuka, tiba-tiba aku menyadari sesuatu hal yang membuatku kembali flashback ke masa laluku. kuraih lagi 6100 ku dan ku lihat di layarnya, dan... lagu "lucky" lagi-lagi berputar, dan lagu itu lagi-lagi menjadi repeat current track. "SHIIIT!!!" gumamku.

pikiran ku kembali melanglangbuana dan aku merasa kembali ke dalam kereta ekonomi AC itu...

di dalam kereta itu... aku memikirkan dia, sangat memikirkan dia. demi menyukseskan rasa dejavu ku, aku membuka inbox 6100 ku. aku mencari-cari lagi satu sms sialan itu. satu sms sederhana yang membuatku ketagihan untuk terus menerus membacanya, satu sms tak berarti tapi dapat membuatku tersenyum-senyum, satu sms sialan yang dari kejadian di dalam kereta ekonomi ac sampai sekarang tidak bertambah-tambah jumlahnya, tetap satu dan mungkuin selamanya akan tetap satu. sms pertama dan terakhir yang dia kirim untukku.
aku terus mencari dan mencari sms sialan itu! tapi tidak kunjung ketemu. dan oh.my.God. aku baru ingat kalau aku pernah menghapus semua isi inbox ku, termasuk sms sialan itu.
aroma tanah basah kembali menggoda hidungku untuk menghirupnya dalam-dalam. suara air hujan lengkap dengan suara petirnya kembali memekakkan telinga ku. ditambah lagi suara colbie caillat pada lirik "i keep you with me in my heart, you make it easier when life gets hard.." mmmh... i miss him. sooo much.
aku juga teringat akan perang batinku di dalam kereta ekonomi ac pada malam itu. hehehe... aku tertawa renyah mengingatnya, ketika aku melihat budak cinta duduk di hadapanku, aaahhh... benar-benar membuatku semakin tertawa mengingatnya. mengingat kalau sebenarnya aku memang pernah mencintai dia. ehmm... MASIH mencintainya. itu juga membuat ketawa. berapa lama aku mencintainya? sudah hampir setengah tahun. dari status dia yang masih single sampai status dia yang sekarang sudah in a relationship. hahaha aku benar-benar tertawa miris dibuatnya.
tiba-tiba suara petir berbunyi sangat sangat keras. aku sampai menutup wajahku dengan selimutku. aku takut. sangat takut. aku matikan musik dari playlist di 6100 ku. ya, playlist yang hanya berisikan lagu "lucky" saja. bersembunyi di bawah selimutku. walaupun selimutku sudah tebal tapi aku masih saja merasa kedinginan. angin dari kipas angin di kamarku dan angin alami dari luar kamarku yang masuk melalu lubang angin seperti ingin mendesak masuk ke dalam selimutku dan menyerangku yang bersembunyi di dalamnya. aku benar-benar ingin hujan dan petir ini pergi. sama inginnya dengan keinginanku untuk membuat dia pergi dari pikiranku.

Minggu, 24 Mei 2009

di dalam kereta ekonomi AC itu...

malam itu, saya sedang menanti kereta ekonomi AC di stasiun ui. saya ditemani oleh kedua orang teman saya. Kereta itu dijadwalkan akan tiba di stasiun ui pukul 09.30 pm. Disela-sela penantiannya itu, kami beradu argument tentang kematian.

"aneh kematian yang datang secara dadakan itu, contohnya kecelakaan" ucap salah satu dari teman saya sambil menghisap rokoknya dgn nikmat.

"aneh? Itu takdir, setiap orang pasti ngerasain" jawab saya datar sambil melihat ke arah jalur rel kereta.

"ntar klo gw ngerasa gw udah mau mati, gw mau cabut semua tindikan gw ah" kata salah satu orang lg dr teman saya.

Hening, mereka beratatapan, lalu tertawa, dan terdiam lagi.. saya melihat ke sekeliling saya, "sepi" gumam saya saat itu. Seolah stasiun pun turut mendengarkan obrolan kami...

keheningan kembali menyelimuti kami. kami, jam, angin, bahkan detak jam pun membisu. kami semua terdiam, dan stasiun pun menjadi semakin sepi ketika kereta ekonomi terakhir mengangkut penumpang di stasiun itu.

"ah sepi. Ga ada yang naek kereta ekonomi AC kayak gw apa!" teriak saya saai itu, tapi kedua teman saya hanya berkata "santaii.." selang beberapa waktu, kereta ekonomi AC itu pun tiba. Dan sukurlah, ada 2 orang wanita yang naik kereta itu juga..
saya duduk di jok paling pinggir dekat pintu kereta. Sendirian, terdiam, sepi, dan hanya bertemankan dingin dari AC kereta yang menusuk-nusuk tulang saya...
kedua bola mata saya berputar ke kanan dan ke kiri, dan kedua bola mata saya itu pun terhenti tepat pada pemandangan di depannya, mmh...

Sepasang kekasih yang sedang menjadi budak cinta. Si wanita tertidur pulas di dada si pria, si pria mengelus2 kepala si wanita sambil menatap dalam2 wanita yg ada dipeluknya itu.

"SHIT!" kata saya dalam hati, "kenapa tiba-tiba gw jadi inget DIA?!" bisik batinnya. Kini mata wanita itu beralih ke jendela kreta...

Di luar sana hanya ada pemandangan gelap yang terkadang diselingi oleh lampu2. saya mengeluarkan nokia black 6300 saya, dan mulai membuka music player. Lagu "lucky" by jason mraz pun menjadi teman saya malam itu di dalam kereta, yang terasa semakin dingin saja. Mata saya kembali tertuju pada pemandangan gelap di luar sana.. Sesekali saya membuka inbox hanya untuk membaca satu pesan, entah untuk yg ke berapa kalinya.

Tiba-tiba timbul segelumit perperangan batin di benak saya,
"is this love?"
"Absolutely NOT! Im not!"
"yes im in love!"
"NO, im not in love!"
"mmh.. okeii im lying to my self, maybe?"
"but i guess, im not, i just...."
belum sempat titik-titik itu terisi, kini mata saya lagi lagi kembali tertuju pada sepasang kekasih di depannya itu.. Si pria membenarkan posisi kepala wanitanya, dan si wanitanya tersenyum, lalu kembali tertidur.

Mata saya kini kembali tertuju pada satu pesan di inbox hp saya yang sudah untuk kesekian kalinya dibaca lagi dan lagi... Lagu "lucky" dipilih menjadi repeat-current track, kemudian matanya menatap kosong ke arah luar jendela, wanita itu brfikir dan.. "ohmyGod! Yes, im in love, im in love with the wrong guy!" klo di gerbong tersebut hanya ada saya, mungkin saya benar-benar akan mengundang rintik-rintik gerimis yang kali ini bukan keluar dari langit hitam nan pekat tapi dari mata saya yang mulai sendu dan memerah.

Tak terasa kereta itu pun sudah sampai stasiun manggarai. Pintu kereta itu terbuka tepat di depan mata saya. dan saat itu saya dapat melihat pemandangan di stasiun manggarai pada malam hari. IRONIS, itulah gambaran saya tentang stasiun manggarai di malam itu. Tepat di depan pintu kereta yang terbuka, ada kakek-kakek yg tidur hanya beralaskan koran, dan kulitnya yang keriput hanya dibalut dengan pakaian lusuhnya. Lalu ada pula anak yang masih memakai celana seragam SD nya tapi dia tidak membalutkan pakaian untuk menutupi badannya yang kecil, hitam, dan kotor. dia berlari-larian masuk ke dalam kereta ekonomi AC itu. Dia nampak seolah-olah sedang menikmati hari bermainnya di stasiun dan di kereta. saya hanya duduk tercengang melihatnya.

Semua mata di gerbong yang saya naiki tertuju pada bocah betelanjang dada itu. Seketika hilanglah bayangan tentang DIA di benak saya. dan pintu kereta pun tertutup kembali dan entah kenapa saat kereta kembali lagi melaju, saya teringat akan diskusi saya bersama teman-teman saya saat di stasiun UI tadi. tema itu... ya... tema kematian itu... kembali melayang-layang di otak saya.

singkat cerita, kereta pun sudah tiba di stasiun Cikini. stasiun dimana ayah dan adik saya sedang menunggu kehadiran saya. saya pun bergegas menuruni anak tangga satu demi satu di dalam gelapnya ruangan stasiun Cikini.

kini saya sudah berada di rumah. Tapi sesampainya saya di rumah tadi, semua pikiran saya hanya tertuju pada satu topik besar yaitu, MAKANAN. Ya makananlah yang terkadang mampu menyegarkan otak saya lagi.

:P