What's done in the DARK will surely come to the LIGHT :)

Senin, 12 Maret 2012

I think that the problem is that I’m stuck waiting for him to do something, to make a move, to say the perfect thing. And the problem is, that I shouldn’t be that girl, the one who sits and waits for him. I should be independent. I should think clearly and consistently without having my mind jump straight back to him. Yeah, falling for someone is the hardest thing to do. And the stupid thing is standing in my way and feeling fear of losing him, the fear of rejection, the fear that I might lose a friend that means everything to me. I want to be everything to him, but I’m not. I’m not the kind of girl he needs, and I’ll never be that girl.

Minggu, 11 Maret 2012

digress

Tulisan kali ini bener-bener meracau banget. Bingung mau fokus kemana. Pengen nulis tentang 2 tema tapi dalam 1 postingan itu susah ya kalo dalam waktu yang mepet dan dengan keypad qwerty yang layarnya cuma selebar 5x3 cm. Jadi beginilah hasilnya...

Putus dari pacar, putus harapan ke gebetan, putus pertemanan atau persahabatan, putus dari teman kencan, putus dari pelampiasan atau apapun itu kenapa sih orang-orang selalu menginterpretasikan dengan stop komunikasi dan bahkan saling membenci. Gak mau saling kenal lagi. Move on untuk sekarang ini artinya malah jadi putus hubungan dgn masa lalu dan mencari orang baru untuk sekedar pembantu diri dalam prosesnya. Bahkan ada yang bener-bener gak mau kenal lagi sama masa lalunya. Ada yang malah ngejelek-jelekin mantan sendiri dan ngaku "gue udah move on dari dia! Gak pantes tuh orang buat gue" tapi bagian terlucunya adalah dia yang bicara seperti itu malah balikan sama mantannya lagi. Ah! Gue ngerti sekarang. Seseorang yang ngejelekin mantannya dan benci sama mantannya adalah orang yang jauuuuh dari lubuk hatinya, jauuuuuh di alam bawah sadarnya dialah yang masih mencintai mantannya dan belum bisa pergi dari masa lalunya. Seseorang yang udah move on itu udah pasti ikhlas. Ngapain juga lah ngomongin jelek-jeleknya mantan kalo emang lo udah ikhlas ngelepas dia pergi. Nggak akan ngefek lah kejadian yang udah-udah kalo bener-bener ikhlas melepaskan. Dan gak akan lah mencari pelampiasan. Lo hanya akan menyakiti orang lain untuk memuaskan ego lo akan masa lalu lo. Lo membawa orang di masa depan untuk mendapatkan lagi masa lalu lo. Kalo kata Afgan: terlalu sadis caramuuu menjadikan diriku pelampiasan cintamu agar dia kembali padamu tanpa perduli sakitnya aku. Hiks hiks hiks...

Well gini gue mau ngomongin tentang gimana menghadapi masa lalu tanpa menggunakan seseorang sebagai pelampiasan. Don't use someone to forget someone. Walaupun ada yang bilang jatuh cinta adalah move on yang paling baik. Masalahnya udah ikhlas belom move on nya? Bersifat sementara sajakah jatuh cintanya? Beneran udah letting go atau cuma denial dari masa lalu? Beneran bisa menerima yang baru kalo kriteria pacar masih mentok pada masa lalu?

To let go isn’t to forget, not to think about, or ignore. Kenapa sih beberapa orang selalu berfikir putus hubungan sama dengan melupakan. Mereka mati-matian berusaha untuk menghindar bahkan menghapus memori-memori dari masa lalu. Menghindari lagu-lagu mellow karena takut galau teringat mantan. Bahkan ada yang jelas-jelas meng-unfollow akun twitter orang yang sudah dijadikan masa lalunya. Deleting contact BBM. Kenapa sih usaha banget buat menolak kehadiran masa lalu ketika jelas-jelas rindu datang menggebu-gebu. The thing is, we don’t have to hate each other. Berusaha keras melupakan kenangan, sepahit dan semanis apapun itu, bukan cara terbaik dalam proses melupakan. Letting go isn’t blocking memories or thinking sad thoughts. To let go is to cherish the memories.

Tapi juga bukan berarti malah mengelu-elukan masa lalu. Hidup di masa lalu dan larut dalam penyesalan masa lalu. Nangis-nangis bombay tiap malam atau membicarakan mantan tanpa rasa bosan. Selalu melakukan hal-hal yang dilakukan bersama mantan, memutar lagu yang disukai mantan tiap malam, mematok kriteria yang sama seperti mantan untuk pacar berikutnya hey get a life! Letting go is not obsessing or dwelling on the past. It is having an open mind and confidence for the future.

Kadang gue pun heran sama orang yang beranggapan kalau putus berarti harus segera mencari pacar baru atau orang baru sebagai pelampiasan, pelarian mereka dari masa lalu yang mengganggu. Some people think kalo siapa yang dapet pacar duluan berarti dia yang menang. Sedangkan yang kalah, dianggap belum move on. Bahkan yang lebih memalukan lagi menurut gue adalah ketika si mantan ulang tahun tapi lo sok-sok lupa dan tidak memberikan ucapan selamat ulang tahun karena takut dianggap masih perhatian atau takut mantan kembali berharap lantaran sebuah ucapan "happy birthday wish you all the best." Oh, be wise! Letting go isn’t about winning or losing. It doesn’t leave feelings of anger, jealousy, or regret. Rasanya gue pribadi akan sangat sujud syukur putus dari orang seperti itu. Karena hal tersebut menandakan kalau dia belum dewasa. Dan lagi-lagi orang kayak gini belom bisa move on. Belom bisa ikhlas. Biasanya orang-orang begini nih yang menggunakan jasa pelampiasan. Hati-hati kalo tiba-tiba orang begini mendekati lo.

Salah satu cara gue pribadi untuk ikhlas melepas dia yang lalu-lalu adalah menceritakan masa lalu itu sendiri yang udah merobek-robek tiap helai kertas harapan yang udah gue tulis rapih. For me, letting go is learning and experiencing and growing. Sebuah pengalaman yang layak untuk ditulis dan dijadikan pelajaran ya apa lagi kalo bukan kisah masa lalu? I'm really bad, no so good at forgetting people. Sang Creator menakdirkan mereka datang dan pergi karena alasan tertentu. Dan kita akan tau alesannya kalo udah bener-bener ikhlas melepas masa lalu. To let go is to be thankful for the experiences that made you laugh, made you cry, and made you grow. It’s about all that you have, all that you had, and all that you will soon have. Letting go is growing up. But Growing up is never easy. You hold on to the things that were. You wonder what’s to come. Other days. Days to come. Itu sebabnya gue gak pernah mau memakai jasa pelampiasan. *penerima jasa adalah bukan pemakai jasanya sendiri*

Perasaan berubah, orang berubah, suasana berubah, tapi satu yang gak bisa berubah... Memori. It stays in the mind. Gak bisa dihapus atau dilupain. Gue menganalogikan sebagai sebuah hapusan. Fungsi utama hapusan toh bukan untuk menghapus, karena ya percuma sisanya masih keliatan kok, bekasnya masih ada di kertas, kertas gak akan jadi kembali putih mulus kayak semula, fungsi utama hapusan ya untuk mengubah yang salah jadi bener, to fix any errors. Hapusan adalah seseorang di masa depan yang akan kita gunakan untuk memperbaiki yang dulu salah. Tapi jangan pernah menggunakannya untuk menghapus masa lalu. Karena fungsi utamanya bukan itu.

- teruntuk mereka yang pernah menggunakan seseorang untuk melupakan seseorang, pelampiasan is a love-criminal! -

Kamis, 08 Maret 2012

Suddenness

-------------------------------------------

Langit di luar sana mulai gelap. Kendaraan di luar sana juga sudah mulai padat merayap. Keputusan yang salah untuk keluar kantor pada saat jam-jam pulang kerja seperti ini. Tapi untuk terus menahan diri berada di kantor juga tidak membuat Echi merasa lebih nyaman. Selagi ada kesempatan pulang lebih cepat, ya kenapa tidak? Mata jalang Echi bergantian melihat awan, kendaraan, lalu kembali ke awan lagi. Berkali-kali Echi membuka mulut dan mengeluarkan udara, ini adalah proses awal ketika akhirnya Echi menyerah menatap awan yang semakin pekat saja gelapnya dan memilih untuk memejamkan mata sejenak di dalam taksi putih yang bertitel "TARIF BAWAH" dan lagu Run - Snow Patrol tetap menjadi pilihan Echi untuk menuju alam mimpi.

I'll sing it one last time for you
Then we really have to go
You've been the only thing that's right
In all I've done

And I can barely look at you
But every single time I do
I know we'll make it anywhere
Away from here
Light up, light up
As if you have a choice
Even if you cannot hear my voice
I'll be right beside you, dear

Louder, louder
And we'll run for our lives
I can hardly speak, I understand
Why you can't raise your voice to say
To think I might not see those eyes
Makes it so hard not to cry

And as we say our long goodbyes
I nearly do
Slower, slower
We don't have time for that
All I want is to find an easier way
To get out of our little heads
Have heart, my dear
We're bound to be afraid
Even if it's just for a few days
Making up for all this mess
Light up, light up
As if you have a choice
Even if you cannot hear my voice
I'll be right beside you, dear

"Mbak... Mbak." Suara berat di dalam mimpi terdengar sangat nyata sekali. "Mbak, kita sudah sampai tujuan." seketika Echi terhenyak mendengar suara yang tidak lagi terdengar seolah-olah nyata karena suara tersebut memang nyata adanya. Echi membuka mata pelan-pelan, mengucak-ngucaknya, mengecek BB just in case ada yang rindu padanya, mencopot headset sambil setengah kecewa karena tidak ada bbm yang masuk, lalu memasukan BB lagi ke dalam tas. Echi memutarkan kepala ke kanan lalu ke kiri untuk memastikan posisi dimana dirinya berada sekarang. Jendela taksi tersebut nampak basah dan berembun. Sepertinya ketika Echi tertidur tadi, awan hitam menangis.

"Loh, ini dimana Pak?" Ketika Echi melihat susunan huruf-huruf yang berkelap-kelip terkena kilauan lampu jalanan. Well, ini sebenarnya pertanyaan retoris. Echi sengaja bertanya walaupun dia sendiri sudah tau jawabannya. Dan dengan polosnya, si Bapak menjawab, "Senayan City, Mbak. Kan tadi bilangnya... Sen... Ci... kan?" Bapak supir menjawab dengan ragu-ragu seakan tau kalau dirinya keliru. Namun tanpa rasa kesal sama sekali, Echi malah memberikan uang selembaran dengan gambar I Gusti Ngurah Rai ke Bapak itu, "Aku bilangnya Semanggi, Plaza Semanggi. Itu kembalinya ambil aja. Aku gak apa-apa di sini aja, thank you, Pak" lalu pintu taksi di belakangnya pun sudah dibuka oleh security Mall. Seketika Echi sudah di depan pintu Mall dan tersadarlah dia akan tujuan awal untuk bertemu Dede di Semanggi harus diatur ulang lain hari. Mengingat jalanan akan 2x lebih macet kalau habis hujan.

Entah karena nyawa yang masih belum terkumpul atau karena alam sadar Echi yang memang menginginkan masuk ke Mall tersebut, Echi pun berjalan dengan santai melewati petugas-petugas kemanan yang memeriksa isi tas orang-orang sebelum masuk Mall. Di dalam Mall Echi langsung disambut oleh patung-patung tak berambut yang modis dan berpakaian branded, yang bahkan dia saja tidak berani untuk sekedar melihat label harga pakaian di toko itu, "Ha-Ha, kalah lo, Chi sama patung." Ejekan dari suara di kepalanya.

"Shit! Gue mau kemana nih sekarang?" Bisik Echi sekecil mungkin agar hanya dapat didengar oleh diri sendiri. Echi menaiki eskalator lantai demi lantai tanpa adanya tujuan mau berhenti di lantai berapa. Sesampainya, entah di lantai berapa, Echi menikmati jalan di sepanjang lorong-lorong Mall yang sejauh mata memandang cukup sepi pengunjung. Mungkin karena bukan akhir pekan. Echi melihat ke bawah, ke atas, ke samping, benar-benar tanpa tujuan namun dengan langkah pasti terus berjalan sampai akhirnya menemukan sebuah toko yang menggelitik rasa gairahnya untuk segera memasukinya. Tulisan untuk nama toko itu sendiri tidak menggunakan font-font yang biasa digunakan toko lain di Mall ini untuk memberi kesan mewah. Tulisannya cukup sederhana dan simpel tapi justru itu yang membuat Echi semangat untuk segera mendatanginya. Sesampainya di dekat pintu masuk, Echi tersenyum senang melihat papan nama toko itu kemudian mengejanya dalam hati, "ADIDAS"

Tempat pertama yang langsung ditujunya adalah tempat dimana Jersey yang dia idam-idamkan terpajang congkak di sana. Salah satu hal yang disukainya dari toko ini dibanding toko-toko lainnya adalah pakaian yang hanya dipajang dengan menggunakan kapstok dapat terlihat jauh lebih ekslusif dibanding pakaian yang dipajang dengan menggunakan patung, yang bahkan terkadang patungnya sengaja berwarna emas sebagai lambang ekslusifitas. GAH!

Echi terus menelusuri lorong-lorong toko tersebut, yang bagian kanan dan kirinya benar-benar menggugah rasa keinginannya untuk melirik bahkan memilikinya. Jersey terpajang dimana-mana dengan lambang club dan negara masing-masing. Tapi melihat harganya saja sudah membuatnya ngeri. Habislah setengah uang jajan dia bulan ini kalau tetap arogan membeli 2-3 piecesnya. Echi segera menarik diri dari kumpulan pakaian-pakaian yang kata orang-orang "laki banget" itu. Baru beberapa langkah menuju keluar, dia melihat suatu benda yang selanjutnya membuat dia tersadar akan alasan kenapa dirinya tidak complain dengan si Bapak supir taksi tadi ketika dia dibawanya ke sini. Jauh di bawah alam sadar, sebenarnya Echi ingin bernostalgia dengan masa lalu.

Dengan langkah ragu, Echi mendatangi benda tersebut dan menjauhi pintu keluar. Echi memeganginya, mengambilnya dari gantungan, memutar balik untuk melihat kondisinya, dan bagian sedihnya adalah... Ketika dia seolah-olah melihat sosok seseorang yang dirindunya. Echi seakan melihat Panjul ketika dia melihat benda itu. Dulu Panjul sering sekali ke toko ini untuk sekedar melihat benda yang sedang Echi pegang sekarang ini. Echi kembali seolah-olah melihat Panjul memakainya, memakai Jaket hitam dengan lambang Inggris di dada bagian kiri. "How are you, Jul? I miss you. I miss when we were here" bisiknya parau dalam hati. Dikepalanya kembali berputar kejadian silam bersama Panjul ketika mereka mendatangi toko ini. Tanpa sadar, matanya kini mulai berkaca-kaca.

"Mbak, ada yang bisa dibantu?" pemilik suara bas itu membuyarkan lamunan Echi, "eh nggak kok, nih, Mas, makasih" Echi mengembalikan jaket tersebut dan segera keluar menuju Urban Kitchen. Dia memilih tempat duduk paling pojok karena hanya di tempat itu yang ada stop kontaknya. Dia membuka-buka buku menu. Banyak daftar makanan yang membuatnya ingin mengendap-endap masuk ke dapur dan mencicipinya sesendok demi sesendok semua makanan yang ada di dalam dapur Urkit, begitu dia menamai tempat makan tersebut. "Mbak, aku mau Chicken salad dan air mineral aja deh", pesannya kepada pelayan yang daritadi setia berdiri di sebelah mejanya.

Echi memeriksa BB nya yang sejak tadi tidak digubrisnya. Dia sengaja menaruh BB di dalam tasnya agar tidak ada yang mengganggu waktu kencannya bersama nostalgia Panjul. LED BB berkelap-kelip, dilihatnya ada 2 BBM yang belum dibaca.

Dedek: Wey kampret! Sensi jauh ah, ogah kesana. Take care, Dear! :*

Echi tersenyum membaca BBM dari Dedek. Dia tahu bahwa dedek akan menjawab seperti itu. Makanya dia sengaja menaruh BB nya di dalam tas dan tidak dipegang seperti biasanya. BBM ke-2...

Panjul: Chi

------------------------------------------

Minggu, 04 Maret 2012

Whisper a wish

People are afraid of themselves, of their own reality, their feelings most of all. People talk about how great love is, but that’s a lie. Feelings are disturbing. People are taught that pain is evil and dangerous. How can they deal with love if they’re afraid to feel? Pain is meant to wake us up. People try to hide their pain. But they’re wrong. Pain is something to carry, like a radio. we feel our strength in the experience of pain. It’s all in how we carry it. Pain is a feeling. Our feelings are a part of us. Our own reality. If we feel ashamed of them, and hide them, we’re letting society destroy our reality. We should stand up for our right to feel our pain. Because the pain is there to remind us that we're still alive.

Sometimes, struggles are exactly what we need in our life. If we were to go through our life without any obstacles, we would be crippled. We would not be as strong as what we could have been.

But sometimes there is nothing to be said, nothing should be said. I just want to find someone who won’t run away. Someone to look me in the eye and tell me it’s okay that things don’t always go right, that this is how life works and how it will always work, that it’s not going to be easy today, tomorrow, the next day, but it will somehow get better.

"God, You are God even when I don’t see You. God, You are God even when I can’t hear You. God, You are God when I feel like I’m falling. God, You are God beyond my understanding. God, You really know what i was, am, and will be. I tend to be strong, because i know what it's like to be weak. I do really need You in all my way. God, I keep You as my Guard, because i know what it's like to cry my self to sleep."

Whisper A Wish,
And let the wind blow it away

Sabtu, 03 Maret 2012

bruising stages

I started off ignorant. A little too careful of my fragile heart. Dan sampai pada akhirnya tanpa tahu mengapa dan bagaimana, I kind of opened up. Little, by little. Hingga tahap ini, tahap ketika mulai berani membuka diri lagi secara perlahan-lahan, I realized I was kind of falling. Slowly... A little too slow that I didn't really feel significant changes but surely, I was falling.

At first I didn't look forward to meeting him. But my heart thought he deserves a chance. I thought that would be different, even after all the same things that occurred, but I wanted to believe otherwise. I thought he got me in the palm of his hands.

I used to go out with you. Tapi dengan rasa sadar yang sesadar-sadarnya yang dirasakan saat itu hanyalah sebatas, "oh oke kita jalan bareng lagi." pun memiliki pikiran akan kemungkinan-kemungkinan setelahnya tidak pernah terbesitkan. Atau mengenai rencana adanya kencan ke-dua, ke-tiga, dst tidak pernah terharapkan. But it was. Now it's different. Now I look forward to seeing you all the time dan hal setelahnya yang paling ditunggu adalah moment-moment ketika terucapkannya kalimat "see you next week." dan hal itu cukup sukses membuat denyut jantung memompa semakin kencang. Dan kalau arti tiap kata yang menyusun kalimat tersebut belum berubah berarti kalimat dalam Bahasa Inggris tersebut masih dimaknai sebagai, "gue masih mau liat lo lagi minggu depan." Correct me if i'm wrong.

Boy, you used to be the one chasing after me. Now it's all different. Dan bagian tersedihnya adalah gue terlampau sering menjadi orang terakhir yang sangat peduli tentang hal-hal yang sudah kami lewati, dan menjadi orang satu-satunya yang peduli tentang apa yang akan kami lakukan di kemudian hari. And maybe that's why I ended up getting hurt over and over. I tried telling you what I want. What I need from you. But it's like you just don't get it. I want to understand you. But I want to be understood as well.

Now, I felt it all changing. The texts, they got much shorter. The meet-ups even got more brief, eh i mean... Hey, long time no see you, my dear friend. Don't you realize that? And you know, for me it's like I have to beg for your attention. I'm the one tossing and turning missing you. We used to talk nonstop. We wouldn't stop sending messages 'cause we just don't want to stop. Now we just... Stopped. How I see it all changing. How I can see the difference from time to time. Sometimes I thought to myself that I deserve better treatment than this. But I realized... I just have to love myself enough that I'm ready to walk away. I feel like I make the extra effort now.

I don't need to see you every day. I don't need to receive your texts every time. I just need to know that I'm on your mind, because honestly, you're always on mine. I just miss you, that's all.

Kamis, 01 Maret 2012

Do you ever sit and think, what if? What if you had never said the first hello? What if you kept your mouth shut and just let things pass? What if you had just five more minutes? What if you could turn back time and make it all stand still? Where would your life be? Better? Worse? Less confused? More confused? Happier? Sadder? Just, what if? This world is too big to not ask questions.

May... Be

Maybe just maybe, not all guys are the same; maybe the guy you’re meant to be with, is right in front of you. Sitting back and waiting for just the right moment to come in and sweep you off your feet. Maybe if you decide right now that all guys are the same; you’re blowing this guy’s heart into pieces cause he thinks he won’t have a chance. So therefore, he won’t come in and make a single move. Maybe you should just simply let things fall into place for you. Forgetting all the people who’ve hurt you in the past, and forgiving all those who are willing to prove to you that you’re worth it. But then again, maybe I’m wrong.
I kind of miss you, not as in I miss you because I like you but I miss talking to you everyday like we used to, talk as friends, talking about everything and anything all day everyday, spilling our emotions talking about music and our problems, everything. I just miss when we used to talk, now it's like we don't even know each other anymore and it kind of hurts, even though we weren't anything, it still hurts knowing we've grown apart and it went by so quickly, I wish I could have you back in the way where we'd just rely on each other, as friends.

Rabu, 29 Februari 2012

Me-Time

Well, here I am. Sitting alone in the corner of a coffee shop. Ehm.. Lebih tepatnya kedai kopi yang menjadikan donat sebagai menu unggulan. This is my payday and... It's me-time :)

Persis di samping kiri gue sekarang terdapat sebuah lampu Nakas, yang setelah gue perhatikan beberapa detik, ternyata lampu tersebut adalah satu-satunya penerangan yang dijadikan penopang untuk memberi terang ruang di smoking area, tempat dimana gue berada sekarang sambil menikmati seruput demi seruput Mochebella yang gue pesan. A cuppa hot Mochabella, cangkir manis itu kini menjadi pemanis bagi meja kayu bulat kecil di hadapan gue. Lampu Nakas berbohlam kuning temaram, lagu Home - Michael Bubble, sepotong donat glassy, dan 2 kantung berwarna cokelat yang di sisi depan belakangnya terdapat beberapa rangkaian kata membentuk 1 kalimat manis "Nature's way to beautiful", lengkap juga dengan beberapa helai tisu khas dari kedai tersebut yang di atas tisunya bertuliskan "Nothing is sweeter than the togetherness we share", semuanya membuat keadaan menjadi lebih nyaman. I don't wanna go anywhere. Just sitting here and enjoying me-time. That's all I want to do right now. Walaupun lagu Home semakin lama semakin terdengar seperti lagu yang sengaja diputar untuk mengusir gue agar segera pulang dan meninggalkan zona nyaman ini.


Q: Loh lo ngerokok, Dil? kok duduk di smoking room?

Actually, there is no cigarette on my round table. And as i know, there's no rule for people who doesn't smoke sitting in smoking room.


Q: Loh terus kenapa lo memilih duduk di tempat yang bisa menjadikan lo perokok pasif?

Gue memilih tempat duduk ini karena berawal dari rasa ketertarikan gue akan lampu Nakas yang memiliki ukiran-ukiran seperti ukiran pada zaman klasik yang terpahat pada kakinya. Ukiran-ukirannya jelas tidak terlihat dari pintu masuk. Dari kejauhan hanya terlihat bentuk kakinya yang jenjang, warnanya yang anggun, dan cahaya kuning redup dari warna bohlam-nya cukup membuat gue bisa menyimpulkan bahwa di sana, di sepanjang kaki jenjangnya ada pahatan ukiran zaman klasik yang membuatnya berbeda dan nampak lebih anggun daripada lampu-lampu yang lain. I don't even have idea about passive smoking effects. I just wanna be here. And i don't wanna think about anything else. Dan benar saja, gue merasa nyaman duduk di sini. Cahaya lampu yang sejuk seolah-olah menenggelamkan gue dari kesibukan kota di luar sana. I just found my "Nature's way to beautiful."

Q: Kenapa Mochabella? Kenapa bukan Green tea?

Jawaban untuk pertanyaan ini sekaligus menjawab pertanyaan "what the hell am i doing here? Why not spending money in a truly coffee shop? Are you really not craving for donuts? Where are you actually? And the answer itself just has 8 letters, 3 words, and 1 action... i miss him. So here i am. Feeling his presence in a cup of Mochabella. Dan karena hanya di kafe ini yang menyediakan Mochabella yang disukainya. And you know what's the hardest part of missing friend? It is not his absence. It's when you think of all those good times and ask yourself, 'will those moments ever happen again?' just like those tissue said "Nothing is sweeter than the togetherness we share" Now, what i see is... He has choosen to stop what we used to do. Maybe, now... he continues it with another one. It's fine for me, that's your choice. And this is my way to decide my choice: delete all the feelings for you by enjoying your favorite beverage. You're not who you were i knew. I don't know who you are. And i just miss when you were with me. Not when you're with her.

Sempat terbesit rasa sedih sedikit, namun segera tersapu dengan suara lirih dari dalam kepala, "hey, wanita yang baru saja bertambah usia, tidak ada alasan untuk bersedih hari ini, lihat lampu Nakas itu, dia sendiri di ruangan ini bergerumul dengan asap-asap namun tetap cahayanya sejuk dan rasa hangatnya tidak membuat pengap bukan? Cahayanya mampu menerangi semua sudut di ruangan ini. Bahkan mampu menarik hatimu untuk duduk di dekatnya. Lihat meja kecil bundar di hadapan mu. Tadinya kosong, sama saja dengan meja-meja lainnya. Tapi ketika kamu memilihnya kemudian meletakan cangkir cantik di atasnya, dia terlihat berbeda dengan yang lain. Lebih berisi dan berwarna. Itu berkat kamu yang memilihnya kemudian membuatnya berbeda dan nampak jauh lebih baik. Teguk saja lagi Mochabellanya, biarkan tiap seruputnya membuat cangkir tersebut kosong sedikit demi sedikit. Pahit ya rasanya? Tapi ada efek hangat yang melegakan bukan setelah minumannya habis? Tujuan peracik kopi, pendesain dekorasi, adalah untuk membuat pelanggan nyaman, jadi rasanya tidak pantas dijadikan tempat untuk bersedih. Ayo mana senyuman mu?" Gue meraih Blackberry, lalu tersenyum menatap layarnya. Tidak ada apa-apa di layarnya, hanya ingin tersenyum saja, biar tidak dianggap gila tersenyum sendiri tanpa alasan secara tiba-tiba. Dan seketika perasaan lega.

Oh oke, sepertinya kedai ini sudah mau tutup. Satu persatu para pelayan merapihkan meja dan kursi. Satu persatu para pelanggan menuju pintu keluar. Tapi gue pribadi masih ingin berlama-lama di sini. Nyaman didekap cahaya dari lampu klasik yang terpancar. Bayangan dia pun lama-lama memudar ikut tertelan bersama Mochabella yang gue seruput perlahan-lahan. Dan kemudian datang 2 orang pegawai kedai tersebut sambil membawa cangkir dan meletakannya di atas meja bundar gue. Mereka tersenyum kemudian menyapa, "Mbak, masih mau di sini? Kami ada minuman baru terbuat dari Green tea." Lalu giliran yang satunya berkata, "Kayaknya Mbak menikmati banget duduk di sini sendirian. Cobain nih Mbak Green tea hangatnya."Sempat berfikir ini sebuah modus baru dalam dunia kriminal. Mereka bisa saja sudah mencampur racun ke dalam minuman yang baru gue kenal. Tapi rasanya pikiran itu terlalu negatif dan dangkal. Gue senyum dan mengambil sedotan bekas Mochabella lalu menggunakannya untuk menyeruput Green tea. Cukup satu seruputan untuk menghindari apa yang sejak awal gue khawatirkan. Dan memang, rasanya cukup menghangatkan. Mungkin karena baru dihidangkan. Jadi hangatnya juga masih sangat berkesan. Gue mengucapkan terimakasih lalu beranjak pergi meninggalkan semua zona nyaman yang sempat sebentar dirasakan. Satu persatu dari pelayan kedai menghadiahkan gue sebuah senyuman. Ah terimakasih. :)

Di Halte TransJakarta, gue mendapatkan lagi sebuah senyuman dari seorang penjaga tiket yang sedang sibuk menghitung uang pendapatan. Dalam kesibukannya dia masih sempat bilang, "Baru pulang Mbak?" kemudian memberikan gue senyuman. Melihat senyum yang ikhlas, tidak terbesit rasa malas untuk membalas juga dengan senyuman, "iya Mas, duluan." Bahagia itu sederhana. Senyum itu mudah. Tidak perlu ada senyum yang dipalsukan. Cukup merasa bersyukur karena hal sekecil apapun yang kita lakukan, kadang tanpa disadari memberi efek besar kepada sekitar. Ah semoga sifatnya bukan sementara, tapi bisa terjadi berulang-ulang tanpa paksa di setiap kala.

Minggu, 26 Februari 2012

Chasing Cars

Recent Song On Play: Chasing Cars - Snow Patrol "If I just lay here, would you lie with me and forget the world?"

Nah, kalo udah begini namanya... Dibutain sama cinta nih. Sampe rela forget the world segala. Biar gak terlalu jauh dibikin autis sama cinta, dan gak terlalu menutup mata dari kenyataan karena terbuai sama cinta, sampe rela melupakan dunia segala demi cinta. Gue mau sharing-sharing dikit ya berdasarkan pengalaman gue, temen, temennya temen, pacarnya temen, temennya pacar temen, dll. Hal yang dapat dipetik dari pengalaman-pengalaman pahit getir, asam manis, dan kecut sepet itu menurut versi gue, adalah:

1. it’s been said that we just don’t recognize the significant moments of our lives while they are happening. Kadang, bahkan sering, kita gak nyadar seberapa nggak terlalu berharganya orang yang kita perjuangin sekarang. Kita rela memberikan semua yang kita punya. Harta, Kunci hati yang seharusnya cuma kita aja yang pegang jangan sampe dikasih ke orang lain, dan terlebih buat cewek yang sampe rela ngasih... keperawananannya. Gue rasa kita seharusnya cukup pintar buat memilah-milah mana yang harus dikasih dan mana yang nggak. Siapa yang layak dikasih dan siapa yang nggak. Jangan terlalu merasa bahagia ketika sedang jatuh cinta. It's still happening, and you just don't realized how wrong you’ve been that you thought how much you need it, how much you love it, and gave everything you had. Gue tau hal ini sulit banget dilakuin. Namanya jatuh cinta. Serasa dunia itu surga. Semua dikasih asal pasangan kita bahagia. Asal dia gak pergi ninggalin kita. Hey, get a life! semua orang pasti pergi. Semuanya. Don't forget about death. We surely face the phase. Iya kalo kematian yang memisahkan pasangan kekasih itu. Kalo karena perselingkuhan? Bukan mau negatif, tapi itu kenyataan. Perasaan seseorang bisa berubah dalam waktu 3 bulan. Dan kita gak mau nyesel kan udah ngasih semuanya? Kadang orang yang terlalu terpuruk after break adalah orang yang biasanya udah ngasih semua-semuanya ke pasangan dia. Hal itu belom berasa, karena belom gak ada.

"Wey sotoy amat lo, Dil. Lo juga paling udah second base lah palingan!" Woops! Sorry... Even kissing, i've not done it yet. And i love being that cupu one. bukan karena gak mau, tapi selama ini emang belom ada yang pantes dapetin. #sikap

2. Gue pribadi akan jawab pertanyaan paling atas tadi dengan "yes, i would" If he still sees the beauty in me and still falls more in love with me after seeing my weird facial expressions, my unusual laugh, my constant complaining, my ugly days, my pig out days, the way i turn in my sleep, my stupid jokes, the way i ask questions about the thing i should already know the answers to but he still answers them anyway, my obsession with strange things, my random sounds (bunyi kentut juga termasuk), and my immaturity. Then i already know that this is the boy. He's the one. And i'll be so glad to say "oh yes, i would. i would lie here with you and forget the world. i would. really i would." Banyak mau nya banget sih emang. Tapi bukannya kalo dia beneran sayang sama kita, hal itu gak akan susah dilakukan? Itu bukan kewajiban kok. Itu hak semua orang untuk melakukannya atau nggak. Dan orang yang sadar akan hak, dia akan melakukannya tanpa ada beban bukan? Apalagi untuk orang yang disayangin. Bukan harta, bukan badan, bukan kunci hati yang dikasih. Cukup yang di atas. Cukup buat jawab "yes, i would!"

3. This is my limit. This is yours. Okelah jatuh cinta memang anugerah. Hal yang mudah dilakukan untuk beberapa orang tapi hal yang sulit dilupakan untuk semua orang yang pernah mengalami. Tapi kita juga inget, setiap orang punya batas privasi masing-masing. Setiap orang harus tau batasan bagaimana menjadi seorang pacar, seorang istri, seorang ibu, ataupun seorang teman (including, sahabat). Ada cerita dari temen gue yang dia sampe megang ATM pacarnya segala, bahkan dia tau jadwal-jadwal agenda pacarnya hari ini jam segini mau kemana, jam sekian lewat berapa menit mau ngapain, lah kita aspri alias asisten pribadinya atau pacar sih? Apa pekerjaan sebagai pacar itu juga mencakup pekerjaan sebagai asisten pribadi? Oh... serem ya pekerjaan jadi pacar kalo begitu. Bahkan suami istri pun kadang menyembunyikan rahasia seputar gaji atau apalah (gue gak asal ngomong, 4 bulan bergaul sama ibu-ibu dan bapak-bapak HRD di kantor membuat gue tau keluh kesah mereka tiap harinya. hehehe mencakup masalah sex juga). There's a thing better unsaid, untold, but there's not a thing better unspoken. Setiap orang punya batasan. Lo sebagai cewe cukup sampe A, atau sebagai temen cukup sampe di -A dan sebagai selingkuhan cukup di ---A. Terserah segimana batesnya. Yang penting harus tau limit-limitnya. Dan kalo bisa dibicarain sama pasangan masing-masing. Biar gak timbul kesalahpahaman aja sih.

"Oh, c'mon, Dila. You don't even have a BF. And you said like you know everything!" oh sorry, tapi belum punya pacar bukan berarti gue gak pernah merasakan segimana rasa senengnya kalo lagi pacaran. Segimana rasa pengen taunya segala sesuatu tentang dia. Segimana pengennya gue handle dia, care about him. Dan bukan berarti juga gue gak tau segimana rasanya putus. Segimana rasanya ditinggalin tanpa ada kata-kata atau salam perpisahan. Segimana rasanya terbang dibilang "aku sayang kamu" lalu dijatuhin "BLAM" dengan kata-kata "You better choose another guy. Lo terlalu baik buat gue" Gue tau rasanya di-cuih-cuih-in kayak gitu. Kenapa? karena terlalu silau sama cinta, jadi gak bisa liat jelas kenyataannya. Gak sadar posisi sebagai teman tapi bertindak selayaknya pacar. Atau sebagai pacar tapi bertindak seolah-olah ibunya. I'm done in it. i've learned from it.

4. Everyone must dream. We dream to give ourselves hope. To stop dreaming - well, that’s like saying you can never change your fate. Isn’t that true?
Percaya, selalu percaya. Kita gak pernah bisa memaksakan cinta, jodoh, rezeki dan lain-lain. Kita cuma bisa berdoa, berusaha, dan berharap. Kalo kita merasa udah capek berusaha, biarkan Tuhan yang menindak lanjuti. Semua akan terjadi atas persetujuan-Nya. Nggak ada orang yang lebih baik, lebih baik lagi, dan lebih baik lagi. Semua itu akan menjadi lebih baik kalau kita membuatnya menjadi lebih baik. So, just do your best, know your limit,and let God do the rest. Jangan ngeyel dalam bermimpi. Jangan maksa dalam bermimpi. Satu-satunya cara adalah bangun dari tidur, dan membuatnya jadi kenyataan. Jadi jangan sampe cinta bikin kita melupakan dunia dan kemudian hidup dalam keindahan-keindahan semu yang sifatnya sesaat.

Untuk hal yang ini emang gampang-gampang susah. Semua orang pengen punya pacar yang udah mapan. Ah semua cewek menginginkan itu. Tapi apakah kita sendiri udah pantes dapetin yang mapan? Apakah kita juga udah cukup mapan buat dilirik sama dia yang mapan? Satu-satunya cara ya bikin diri sendiri lebih baik lagi. Mungkin bukan dengan cara mengejar posisi jabatan tinggi lalu flirting ke orang yang mapan, tapi coba deh mau menerima seseorang yang belum berposisi dan masih berusaha sama-sama buat meraih kemapanan itu sendiri. Looks like fantasy. Sinetron. a Joke or whatever. Gue keinget kata-kata orang di HRD, dia dosen dan juga tim asesmen di Kantor, "Jodoh dan rezeki kita sendiri yang menentukan. Tuhan cuma asesor. Kalo menurut dia kita layak mendapatkan, dia akan meloloskan itu. Gimana cara Dia menilai kita layak atau nggak? Doa, usaha, dan sabar."

So ladies, be blessed for being single. There's a quote i want to share with you, "being single used to mean that nobody wanted you. Now it means you are pretty sexy and you are taking your time deciding how you want your life to be and who you want to to spend it with." Cukup buat pembelaan bagi mereka yang masih available to catch. Hihihi

Sabtu, 25 Februari 2012

they're just numbers

2G dan 3G. They are just numbers. Setidaknya itu yang dipahami oleh Echi. Sebagai pemilik BB dengan koneksi yang masih 2G, Echi jelas tidak terima dengan komentar Panjul yang mengatakan bahwa BB 3G miliknya jauh lebih canggih dibanding milik Echi.

"Please ya, BB gue gak beda jauh sama punya lo, Panjul!" Echi memamerkan BB 2G nya yang masih mulus dan tidak berkondom seperti milik Panjul.

Panjul tentu saja tidak terima kalau BB nya dianggap sama dengan BB milik Echi yang bahkan dari segi bentuk saja sudah jelas-jelas berbeda kecanggihannya, "eh mereka gak mungkin ya nyiptain 2G dan 3G kalo emang gak ada bedanya. Buat apa coba?" Panjul mencoba mempertahankan pendapatnya.

"Oh jelas aja, mereka cuma mau mencuci otak kita aja, para konsumen yang mudah kemakan iklan. Bedanya cuma satu aja sih, angka di depan huruf G nya aja" Echi nggak mau kalah untuk diskusi kali ini.

Panjul menangkap bahu Echi dan menariknya dengan sigap, "mau kemana? Di sini eskalator turunnya." Sambil menuntun Echi ke eskalator. "Serius banget sih debatnya, maen neloyor pergi aja gak liat-liat eskalator." Ledek Panjul.

"Ya pokoknya, mereka cuma angka, Jul. Pembedanya cuma itu aja. Masalah lemot atau gak, ya itu balik lagi ke provider masing-masing!" Echi tetap ingin melanjutkan perdebatan yang sudah terjadi cukup ngotot-ngotot-an di antara mereka.

Panjul, yang ditakdirkan sebagai pria tulen, tentu saja gak terpancing emosinya dengan kengototan Echi yang malam itu memang cukup membuatnya sebal. "Oke, gini deh Chi, kita adu-adu-an cepet aja deh. Lo pake Simp*ti, gue juga. Coba kita download lagu. Di sini. Sekarang. Gimana?" Tantang Panjul yang langsung dijawab cepat oleh Echi. "Oke! Deal."

-----

Bukan hal baru lagi bagi Panjul ataupun Echi ketika mereka harus terlibat dalam perdebatan panjang yang sebenarnya berawal dari hal yang tidak penting. Mereka akan saling mempertahankan pendapatnya bahkan tidak segan-segan mereka akan memberikan bukti-bukti atau contoh-contoh untuk memperkuat argumennya. "Untung ada google!" Mungkin semboyan yang tepat untuk mereka ketika terlibat dalam perdebatan panjang seperti ini. Tidak jarang Echi meng-google untuk menemukan fakta-fakta sebagai bukti ke Panjul kalau dirinya tidak asal bicara. Namun tidak jarang juga Panjul menghindari perdebatan yang terjadi. Biasanya Panjul hanya tertawa dan diikuti komentar mentah, "terserah lo deh Chi." Bukan berarti Panjul kalah, tapi karena Panjul tau Echi keras kepala dan susah mengakui kalau dirinya salah. Jadi daripada berdebat dan memancing emosi Echi, lebih baik segera diakhiri.

-----

"TUH CHI!!! LIHAT!!! Punya gue udah kelar downloadnya! Mana punya lo liat?" Panjul memanjangkan kepalanya untuk melihat layar BB Echi yang sejak dimulainya tantangan selalu ditutupi oleh tangannya.

"Bawel. Nih nih! Belom kelar. Pasti lemot provider gue gara-gara di Basement nih" Echi tetap berkelit. "Halah sama aja provider kita. Akuin aja kenapa sih kalo 3G emang lebih cepet dibanding 2G." Ucap Panjul dengan rasa puas karena berhasil mengalahkan Echi. Lebih tepatnya mengalahkan BB 2G milik Echi.

Sambil mengacak-acak rambut Echi, dan lalu merangkul bahu Echi, Panjul mengarahkannya menuju letak mobilnya parkir sambil berkata, "batu banget sih jadi cewe. Hehehe."

Viola, here they are! Basement! Dimana mereka selalu nyasar mencari mobil Panjul yang entah diparkirkan di sebelah mana. Mereka bukan tidak pernah mencoba menghafalnya. Sudah berkali-kali. Tapi tetap saja, sesampainya di Parkiran, mereka hilang ingatan lagi. Kali ini pun, mereka harus tawaf (keliling) parkiran sebuah mall di bilangan Jakarta Selatan.

"Lo yakin kita parkir di B3?" Tanya Panjul yang daritadi berjalan sangat cepat hampir meninggalkan Echi yang berjalan susah payah dengan heelsnya. "Gue udah bilang kan Chi, jangan pake heels!" Panjul menunggu Echi yang malah asik mendengar lagu download-an dari BB Panjul yang baru saja dijadikan bahan pembuktian 2G dan 3G.

"Wah, Jul, seru deh lagu Su-Ju yang MR. Simple ini. Kocak tapi enak. You should listen, Jul." Seru Echi sambil menggoyangkan kepalanya. Sementara Panjul tetap sibuk berjalan cepat ke kanan ke kiri mencari mobilnya. "Chi, yakin di B3?" Tanyanya lagi.

"Iya, soalnya tadi pas turun mobil gue sempet bilang wah kita parkir di bawah banget ya B3 mirip kayak waktu gue ke P*M." Jawab Echi santai.

"Oke, gue cari dulu. Lo di sini aja. Ntar kalo mobilnya ketemu, gue jemput di sini." Suruh Panjul tanpa menoleh ke belakang dimana Echi masih berjalan terseok-seok. "Nggak mau! Panjul! Gue mau ikut lo nyari." Bantah Echi sambil mempercepat langkahnya mengejar Panjul. Echi memberi instruksi ke kanan, ke kiri, balik lagi ke posisi awal karena di rasa sudah semakin jauh nyasar. Panjul pun entah sudah berapa kali bertanya ke penjaga parkiran. "Emangnya Mas parkir di nomer berapa?" DARN! They forget the number! Alhasil mereka berusaha sendiri mencari posisi mobilnya.

"Lo gak salah kan, Chi? Yakin di B3?" Tanya Panjul entah untuk keberapa kalinya kepada Echi. "Yakin, Panjul." Jawab Echi mantap dan membuat Panjul semakin semangat mencari mobilnya, "oke kita cari."

Panjul beberapa kali menoleh ke belakang, memastikan bahwa Echi tidak hilang dan tidak tertinggal terlalu jauh di belakangnya. Pucuk dicinta ulam tiba! Soluna birunya berhasil ditemukan. Rasanya Echi ingin memeluk mobil tersebut. Terlebih lagi kepada pemilik mobilnya, Panjul. "Aaaah! Ya ampun Panjul, gue capek!"

Panjul menghidupkan mesin mobilnya. Terlihat keringat di dahinya. Dan nafas Panjul yang tersengal-sengal sampai terdengar ke kuping Echi cukup mampu dijadikan sebuah pertanda kalau Panjul lebih letih dari Echi. Dan ketika itulah Echi berhenti mengeluh karena keletihan. Panjul lebih letih.

"Kali ini gue bener kan, gak sotoy. Lo gak percaya sih tadi. Sampe nanya mulu. Tadi 2G 3G lo bener, tapi B3 B2 gue yang bener. Hehehe mereka cuma angka tapi bisa bikin kita debat gini ya. Mana lo pake ragu segala sama gue." Echi membuka percakapan.

"Heh, kalo gue gak percaya sama lo, gue gak bakal tetep nyari di B3. Ke kanan ke kiri. Gak bakal mau. Kalo gue ragu-ragu sama lo, gue bakal tinggalin lo di sini dan nyari di B2. Karena gue yakinnya di B2. Paham?" Jelas Panjul dan berhasil membungkam Echi.

"Paham. Paham Jul. Gue paham lo percaya sama gue. Gue paham hari ini gue mulai sayang sama lo. Gue paham gue gak mau lo ngilang, Jul. Gue paham gue takut lo kayak yang udah-udah. Gue paham, that we're just friends, just like 2G 3G or B3 B2 they're just numbers. Tapi semoga ada pembuktian biar angka gak terlihat sekedar angka. Ada makna yang penting dibalik angka itu yang akhirnya membedakan antara 2 dan 3. Gue paham itu, Panjul." Ucap Echi, jauh dari lubuk hatinya yang paling terpelosok.

Jumat, 24 Februari 2012

even angels cry...

Do you ever realize the time when we cried but our mother was smiling? I think that was the one and only day that happen in our life, wasn't it? As we know she cries when we cry and sometimes she still cries when we laugh. What a rare moment. It's a dedicated ceremony, an aniversary, but not wedding. The easy way to tell is its birthday.

I thought it was lovely when you forget all birthdays, including your own, to find that somebody remembers you. But then i think again, how do you expect them to remember your birthday, when you never look any older? Mehehehe... By the way, a cake and gifts don't matter much. These common things aren't really me. Also ribbons, paper hats and such. For me today is friendly friday. Fresh air... Fresh idea... Fresh talent... Fresh energy... So in this last friday in February, i just wanna say: have a lovely birthday to people who celebrate it.

There is a case i wanna share with you here. Last night, I remember what my friend has said to me. He said: "when you were born, everybody was laughing there and you were crying out loud. So as you live to blow a thousand candles, live your life humbly. Till the time when you die, you would be the one laughing and everybody else would be crying." Yes it is. It will be a rainy day when it comes, but it isn't really rain. Even Angels are crying because they lost their most beautiful you in the world.

So, today, in this my day, let me say something to all of you: have a great week ahead, good people, and have a smile in all the way :)

- A Piscean, 24-02-2012 -

Kamis, 23 Februari 2012

Reality of Fear

I saw some fears in me. in you. in our. in every "i am okay." in every fake smile. in every "everything's fine." And that's why we pray. we wish. we hope. But what i realize is we're all actually not scared of facing reality. We're just too scared to open what's in the package of reality itself. We've scared of what's real in reality. So it's reality of fear not fear of reality. Get it? Got it?

What i found is that you're not scared of the dark, you've scared of what's in it. You're not afraid of heights, you're afraid of falling. You're not afraid of the people around you, you're just afraid of rejection. You're not afraid to love, you're just afraid of not being loved back. You're not afraid to let go, you're just afraid to accept the reality that he's gone. You're not afraid to try again, you're just afraid of getting hurt for the same reason.

But you know, each day is a treasure box of gifts from God. It is just waiting to be opened. But remember, you have to open your gifts with all of your excitements. Smile then, because you will find forgiveness and you will find love in it.

Rabu, 22 Februari 2012

Ekspresi

Uh yeaaay, feel so happy!

Seneng deh baca comment orang-orang yang bilang "I love the way you tell your story. And actually, it inspires me enough." Tapi seneng juga kok ketika ada orang yang bilang, "your blog is sooo pathetic, don't you have happy stories to tell? Jangan terlalu meng-ekspos juga lah. Mending curhat aja ke temen. Jangan ditulis semua." atau comment yang kayak begini "Tulis yang berbau pengetahuan umum kek sekali-kali. Galau molooo!" Thank you for letting me know your opinions. Well, That's life! Like and dislike, agree and disagree, pro and contra ;)

But I choose to write because it's perfect for me. It's an escape, a place I can go to hide. It's a friend, when I feel out casted from everyone else. It's a journal, when the only story I can tell is my own. It's a book, when I need to be somewhere else. It's control, when I feel so out of control. It's healing, when everything seems pretty messed up. And it's fun, when life is just flat-out boring.

Is it wrong if i wanna share what i've done, what i've felt, and what i've learned from my past to people around?

Hemmm... Sejujurnya, gue gak pernah terjun ke dunia politik, jadi apa yang harus gue tulis dari hal yang gak pernah gue alamin langsung? Gue juga gak pernah menghafal UUD, belajar hukum perdata dan pidana, lalu apa layak kalo kemudian gue komentarin kasus di Pengadilan Tipikor? Gue pun bukan ahli geografi yang suka menganalisa suatu daerah berpotensi tsunami atau gak ketika gempa terjadi, lalu apa yang harus gue analisa tentang kondisi alam yang semakin lama semakin banyak kejadian anehnya? Terakhir gue baca artikel tentang hal yang berbau-bau geografi itu ya tadi sore, isinya tentang bumi yang tidak membutuhkan bulan. You can google it, if you want to. Gue juga bukan ahli agama yang hafal dalil-dalil tentang bagaimana seharusnya sebuah pengajian itu dilaksanakan, apa bener harus nutup jalanan, atau gimana? Sebagai manusia yang gak punya keahlian tentang itu, gue cuma bisa kesel dan kadang mengumpat karena bikin macet. Tapi apa gue harus membenci dan mengutuk orang-orang yang sedang mengadakan puji sukur untuk Tuhannya? Sementara gue aja jarang memanjatkan doa kepada Dia. Yang gue paham dari kasus ini, gak ada agama yang salah dan gak ada pula cara yang salah untuk memuji Tuhan. Apa yang harus gue jelasin? apa coba apa? Kalo gue cuma tau sebatas itu aja? Well, sadly to said, i'm not that smart person.

Udah banyak juga blog yang ngebahas masalah umum, pengetahuan umum, kondisi sosial dan semacamnya. Udah ada pakarnya masing-masing dan tersedia banyak di google. Lantas apa salah kalo ada orang yang pakar dalam hal "dijatuhin setelah diajak terbang se-meter" sharing tentang gimana dia harus up after down? Kadang pengalaman adalah pengetahuan yang tersimpan. I'm not a wise person. Totally not. But at least, dari riset (bukan dengan cara googling, tapi berdasarkan pengalaman pribadi dan temen-temen yang sempet curcol ke gue) i've learned how to be rising after falling. I know everyone has their own way to become good in a bad moments. But this is my own way. And when you read all my posts, you are walking through my mind. And of course, I'll be glad to guide you towards the exit door, if you intend to destruct what i've constructed. Setiap orang punya cara masing-masing bukan untuk berekspresi? And yes, this is my way, my own way. Dan menurut gue, kemutlakan tentang hal yang salah atau bener itu... adanya di Matematika.


Recent Song On Play: Ekspresi - Titi DJ

Selasa, 21 Februari 2012

S(He) thinks about that-this!

Me : puter lagu someone like you ah...

He : lagu yang bikin move on bisa kali.

Me : kalo gue maunya someone like you. Gmn?

He : yah gak move on - move on! Harus nyari yang better lah!

Me : nggak butuh yang better, cukup someone like you!

He : mana move on-nya kalo nyari yang someone like you terus.

Me : kalo gue cintanya sama someone like you, ngapain nyari yang better than you?

He : yah namanya move on harus nyari yang better than you. Berarti lo belom move on dong. Masa maunya sama yang kayak mantan lo lagi sih. Buka hati dong buat yang......

Me : aduh lo gak peka deh! Geregetan gue jadinya! (dalem hati I want you. I need you. And yes, I do love you! Just you. The best is someone like you!)

He : eh? Loh? Kok?

-------------

Gara-gara mustang puter lagu 'someone like you' malem-malem gini, tiba-tiba kepikiran percakapan di atas. Kebanyakan cewek tuh kenapa suka banget ya mengutarakan sesuatu pake kode-kode, berharap si cowok paham, ngerti kode-kode yang dimaksud. Tapi yah cowo kan emang terkenal sebagai makhluk yang kurang peka di mata cewe-cewe. Mereka cuma nangkep apa yang dilihat dan didengar. Bukan yang dirasa-rasa. Nggak ada yang salah sih. Cuma akan jauuuuh lebih baik kalo cewe gak usahlah pake kode-kodean lagi, nyusahin diri sendiri aja, kalo jadi misscom gimana? ngomong aja langsung apa yang lagi dirasain entah kesel marah seneng atau apalah. He's not a mind reader. Cari aja tuh yang kayak Dedy Corbuzier kalo mau sama yang bisa baca pikiran.

Yah gue jujur kadang-kadang juga masih pake kode-kode sih. But, I've learned about why we complicate life. Missing somebody? Call. Wanna meet up? Invite! Wanna be understood? Explain. Have question? Ask! Don't like something? Say it! Like something? State it! Want something? Ask for it! And the last... The hardest thing I guess is when you love someone. Are you then going to tell it? The answer is yours. Be wise to choose your love. Jangan sampe salah bilang cinta sama orang yang gak pantes dapetin cinta lo. Aha!

Dan ini bukan buat cewe doang juga sih! Cowo pun udah banyak yang maenan petak umpet perasaan kayak gini nih. Bikin cewek jadi nebak-nebak sendiri. Cewe juga kan bukan Romi Rafael yang bisa masuk ke dalam pikiran cowo dan tau persis kemana hubungan ini akan berjalan. Jadilah cowo yang secara lantang dan tegas kasitau kalo ini akan berjalan ke sini atau ke sana, atau diam di tempat, atau malah hormat grak. Kadang sinyal-sinyal yang diberikan juga kurang jelas sih, kalo kita jadi salah baca tanda-tanda nya gimana?

Kadang ada cowo yang bawaannya cuma bercanda-bercanda doang, tapi ujung-ujungnya malah marah karena kita (cewe) gak nganggep mereka serius. Lah? Gimana kita bisa tau kalian itu serius kalo selama ini kan kita cuma ketawa ketiwi aja dan gak pernah ngomongin hal yang serius! Ada lagi nih cowo yang udah kita anggap serius karena dia emang selama ini bawaannya selalu serius tapi ujung-ujungnya dia malah bilang selama ini biasa aja, nggak ke arah-arah pengen ke tahap hubungan selanjutnya. Ha! Eat that shit!

Pikiran cewe: Argh!!! Apa sih mau cowo sebenernya? Bisa gak sih bawa spanduk gede-gede kasih tau apa yang sebenernya lo inginin? Jadi lain kali mending langsung terus terang aja deh, daripada gue cap cip cup atau ngitung kancing.

Pikiran cowo: Argh!!! Ini cewe tai banget sih! Suka tiba-tiba sendiri marah! Mau lo apa sih? Bilang aja kenapa! Jangan nggak-nggak taunya malah iya, atau iya-iya tapi ternyata nggak! Bikin gue serba salah aja sih!

aimless with a destination

------------------------------

Me : thank you for tonight yaaa... So much fun i had!!! :')

He : yup! by the way, kalo lo dikasih waktu 1 jam, lo mau nguulang part yang mana?

Me : pertanyaan lo susah banget deh! Well... Gue mau ngulang semuanya, can i?

He : hey, you only have an hour to repeat your whole day.

Me : well, lemme think a moment. Aha! Parkiran!

He : hahaha... Emang ada hal yang romantis apa di sana?

Me : Nggak. Gue kan gak suka yang romantis. Makanya mau balik ke parkiran aja.

He : that's it? cuma karena nggak romantis?

Me : Ya jelas..... Nggak karena itu aja dong! Kamu ngeh gak sih? Kita kan selalu nyasar tiap nyari mobil kamu di parkiran.

He : and then?

Me : Ya aku mau ngabisin waktu 1 jam itu di basement. We stray. Nyari mobil yang entah parkir dimana karena kita sama-sama lupa. There, we move about aimlessly, but aimless doesn't mean without destination, does it? We have our destination. Our purpose. And we are looking for your car. And i love doing that.

He : Aneh lu! Gak takut muter-muter di basement? Kan gelap.

Me : Elu bukan banci kan? Laki-laki sejati kan? Ngapain gue harus takut kalo gitu? kan ada lo!

He : Yakin banget gue bakal ngelindungin lo?

Me : Maunya sih gak yakin. Tapi tadi lo bilang, "lo tunggu sini aja deh, gue yang nyari daripada lo kecapean, nanti kalo udah ketemu gue jemput lo di sini" and i have no doubt afterwards. lo gak mau liat gue capek :')

He : yaaa... aku kasian lah kalo kamu nemenin nyari juga, nanti kecapean. Tapi aku seneng waktu kamu jawab, "nggak, gue mau ikut lo nyari mobilnya juga." hehehe...

Me : ya masa aku ninggalin kamu susah sendiri? nggak lah, emang aku cewe apaan yang cuma ada di saat lagi seneng-senengnya aja. Aku mau ikut susah bareng kamu, sampe ketemu tujuan kita bareng-bareng, at the end we surely get a happy ending. Asal kamu tetep izinin aku ikut sama kamu.

He : Just do our best and let God do the rest. :)

Me : Eh, tunggu deh... Ini kita di B2, mobil kamu bukannya di B3?

He : Itu mah tadi pas di PI yang parkir di B3.

Me : hah? ya ampuuun! Loh kita udah beda mall ya? hahaha!!!

He : kemane aje lu sayaaang? Tapi ngomong-ngomong, kita parkir di nomer berapa ya?

(kemudian hening)

------------------------------

Sabtu, 18 Februari 2012

simple conversation with the future one

ME: Jadi masalahnya lo takut memulai hubungan sama yang baru? Semacam a fear of falling in love gitu?

HE: Eh... enggak juga sih. I'm just sometimes afraid of falling. And hey, i do never have a fear of loving.

ME: Yah elah sama aja! intinya trauma kan? takut keulang kayak dulu lagi ya? Atau lo mengidap *Philophobia?

HE: Trauma sih nggak. Philophobia juga nggak. Buktinya gue mau ngebuka diri buat lo. And when i already open up my self to you, it means i already face the falling too. Gue siap ditinggalin kalo lo mau nyari yang lebih baik dari gue. Banyak cowok yang jauh lebih mapan di luar sana. Dibanding sama gue yang...

ME: Sssst, you've talked too much. Gue gak mau bikin lo jadi Philophobia.

HE: Gue cuma gak mau nanti lo ngerasa "i should deserve better than this." Kalo nanti lo ketemu someone better than me bilang aja ya. Ninggalinnya jangan tiba-tiba. hehehe...

ME: Lo ngomong gitu karena lo juga pengen nyari yang lebih baik dari gue kan? Orang yang ngomong gitu biasanya dia yang paling berpotensi untuk ngelakuin.

HE: Hahaha... Gue bahkan gak tau kriteria yang lebih baik itu gimana. Karena yang ada di samping gue sekarang, itu yang terbaik.

ME: Ya lo bisa ngomong gitu sekarang. Karena emang comparison-nya sendiri belom ada. Kebanyakan cowok kan kalo rasa penasarannya udah terpuaskan langsung nyari tantangan lagi. Kalian kan makhluk yang suka tantangan, apalagi kalo berhasil meluluhkan.

HE: Yah menurut gue comparing will be endless sih. Kalo terus mencari, pasti selalu ingin lebih lagi lah. Namanya manusia mah gak akan pernah puas. Kalo udah ngerasa puas... ya gak bakal hidup di bumi ini yang selalu menyediakan hal-hal yang menggiurkan.

ME: so?

HE: Pikirnya gini aja deh... yang ada sama lo sekarang, itu yang terbaik. Dan yang lebih baik di luar sana hanya enak dilihat semata. Buat gue, yang sekarang pilihan dan yang lainnya cobaan.

ME: Kalo gitu, gue mau usaha biar jadi cewek yang "you're the only one" ah! Bukan sekedar "your number one." Jadi nanti si cowok gak tergiur deh sama cobaan.

HE: hahaha... udah kok. Lo udah jadi.

ME: :)

--------------------------------------------

* Philophobia: There is a general sense of euphoria when an individual recognizes they are in love. This is made all the more ‘wonderful’ when the other person expresses a similar point of view. The troubling part of this scenario is when an individual fears the prospect of romantic love or involvement. This can turn the ‘wonderful’ moment into a fear.

Thanks to you

I would like to thank each of you...
For having a date with me,
For not smoking when we are together,
For listening me in galau times,
For sharing your dreams,
For telling me things you said you can never tell anyone,
For compiling my favorite songs in a folder on your mp3,
For letting me eat whatever I crave for,
For liking salad when i was on diet!
For putting your warm arm on my shoulder,
For letting my head rest on your shoulder,
For being mature,
For being good looking,
For being humble,
For being a hardstudying person,
For not being annoyed when i'm being annoyed,
For not using so much plastic,
Most of all, for being you.

Recent song on play: Fake Plastic Trees - Radiohead

Jumat, 17 Februari 2012

CLBK doesn't exist

Gue heran sama konsep CLBK, Cinta Lama Bersemi Kembali. Sorry nih ya kasar, tapi tai yang setai-tainya itu ya CLBK. Menurut gue, lo di sini kayak mainin cinta, gak menghargai cinta. Halah cinta cinta cinta melulu. Kapan sih berenti ngomongin cinta? Tapi gak usah sok gak butuh cinta lah, toh cinta emang eksis kok di kehidupan kita. Eksistensi yang invisible. Coba aja lo cek mp3 preman-preman Pasar Senen, 99% lagunya pasti lagu cinta dan 50% temanya pasti sakit hati. Atau coba lo cek mp3 dan dvd koleksian lo deh, rata-rata temanya apa? Cinta kan? Nah balik lagi ke konsep CLBK menurut gue.

Gini loh, kenapa lo yakin bisa berkomitmen di awal atas nama cinta sama dia kalo ujung-ujungnya lo putus dengan alasan, "kita gak cocok lagi, gak sependapat, ego kita sama-sama tinggi, kita putus" Lo waktu akan ngomong ini inget gak sih dulu awal mulanya kenapa lo yakin banget sama dia sampe akhirnya lo nembak dan menyatakan cinta? Kenapa dulu lo ngerasa cocok? Kenapa juga dulu lo bisa ngerasa dia mampu meredam ego lo. Lo masih inget gak sih alesannya? Hemmm... Okelah salahin waktu. Dia emang selalu jadi kambing hitam. Jadi masalah waktu pendekatannya kurang? Sehingga lo belom mengenal dia lebih jauh? Lo baru mau mulai mengenal dia sambil jalanin dulu aja? Dan seiring berjalannya waktu lo akan melihat kecacatan sifatnya, gak cocok karena dia gak ngerti maunya lo gimana, dan putus? Segitu aja definisi cinta yang lo ungkapin dari awal buat dia? Oke lah mungkin emang lo udah usaha buat nerima dia apa adanya tapi tetep gak bisa dan putus jalan terakhir. It's still yeaaah... fine for me. Tapi kalo abis bilang putus trus nyesel dan minta balikan, itu yang maksud gue adalah tai. NGAPAIN LO BILANG PUTUS KALO UJUNG-UJUNGNYA GALAU PENGEN BALIKAN?! *intensitas pemencetan keyboard tiba-tiba menjadi lebih kuat*

Kemana aja kemarin? Baru nyadar ya cinta itu bisa jadi boomerang buat diri sendiri? Like i ever said before that sometimes you won't know if it's really love until it's over. Cinta itu bukan kayak barang bekas yang ketika dirasa udah gak berfungsi lagi, lalu dibuang. Dan ketika sadar klo barang itu masih bisa difungsigunakan, lalu kita pungut lagi. Cinta gak pernah ada yang bekas. Adanya yang berbekas. Dan akan selalu berbekas di hati. Bahkan gak ada campuran zat formula dari para ahli kimia yang sanggup menghapusnya. Cinta gak pernah ada yang lama pun yang baru. Cinta gak pernah gugur karena akan selalu bersemi di hati. Cinta itu tulus. Dia selalu memberi tanpa harap kembali. Cinta bukan garis lurus yang gak pasti dimana ujung, tapi cinta itu lingkaran yang gak akan pernah terputus dan karena udah pasti gak berujung. Dia selalu nyambung melindungi titik rotasinya.

Di sini, gue gak menyalahkan kejadian putusnya. But hey, lo harus terima konsekuensinya dong ketika mulut udah memuntahkan kata "putus" itu berarti lo harus siap kehilangan dia yang selalu menyapa lo di tiap pagi hari. Dia yang terus nyemangatin ketika lo lagi down-down-nya. Dan, oh iya, gue punya satu pertanyaan: apakah di setiap lo menemukan alasan untuk putus, lo juga udah cari satu alasan kenapa lo cinta sama dia dari hari ke hari? You know, buat gue komitmen bukan keterikatan, tapi kerelaan untuk setia dalam hubungan. Rela berarti gak terpaksa. Masa setia aja harus dipaksa sih? Masa gak rela sih setia sama pasangan sendiri? Lupa ya dulu waktu masa-masa jatuh bangun tetep bergandeng tangan demi terjalinnya hubungan? The relationship you built from zero is priceless. Dan menurut gue, ketika kata "putus" terucap, itu juga merupakan sebuah komitmen. Komit untuk putus berarti rela untuk melepas hubungan yang udah dijaga bareng-bareng selama ini. Malu dong ah udah minta putus terus galau ngajak balikan. Bukan malu karena gengsinya. Tapi karena hal itu mencerminkan kepribadian lo yang, oh sorry to say, gak bisa jaga komitmen. Mungkin bukan gak bisa, tapi belum sadar apa itu komitmen dan gimana menjaganya. Tapi gak salah kok, namanya manusia pasti ada khilafnya. Khilaf keceplosan ngomong putus karena emosi semata. Ya, emosi sesaat yang akhirnya bikin pikiran mati karena otak dan hati gak mau lagi diajak diskusi. Ring the alarm! Itulah yang bisa menghancurkan sebuah hubungan.

"The key to a successful relationship involves falling in love over and over again. But with the same person everyday."

Mempertahankan itu jauh lebih sulit daripada mendapatkan. The challenge is to keep that feeling over and over every day, tanpa mengubah apa-apa. Tentu dari hari ke hari kita akan menemukan aslinya pasangan kita. Kadang di satu sisi, ada rasa dimana kita merasa deserve better, kita gak terima, but hey... Masa iya sih, lo cuma mau ada buat dia di saat dia seneng doang, dan saat dia lagi bukan dirinya yang sebenernya, segampang itukah you give up on them? Pasti ada loh satu orang yang pengen banget lo kasih tau tentang suatu kejadian menarik yang terjadi di hari lo. I didn't say a name, but somehow a name pops in your head, did it?

Rabu, 15 Februari 2012

You've got mail

----------------------------------------------
to: Dila - dilalongoria@yahoo.com
cc: People around the world who read this mail
subject: Do not give up!

someone may not be good at everything, but everyone is good at something. He creates talents for us. Talents are what make a person worthy of something. Some people are born with at least one talent. So it's no excuse thinking that you're unworthy, Dil. Remember, someone ever said to you, "your life is full of cool concepts, Dil." Well, you know exactly, life is about process. Process has many ups and downs. "Ups and Downs" is the moment when you have to try a bit harder to pluck you up out of trouble and build you a bridge, so you can cross to reach the Island of Dreams. Dreams are what make a person alive. Purposes. Because it means you still have many hopes and many opportunities. So don't let your dreams be dreams. You know for sure that the only place where dreams are impossible is just in your own mind. And the best way to make your dreams come true is to wake up! Go chase your purposes, Dila, your passion in life, your dreams! Hopes are endless and opportunities are limitless. All you have to do is be prepared for it. And promise me, you won't give up, Dila!

sender: Me - dilalongoria@yahoo.com
---------------------------------------------
at times when i feel useless, unworthy. Then I think hopes and dreams are like teardrops in the rain, they get lost in reality.

Selasa, 07 Februari 2012

True Love is Never True

Aristotle bertanya pada gurunya, "Apakah cinta sejati itu?" Gurunya pun menjawab, "Berjalanlah lurus di taman bunga yang luas. Petiklah satu bunga yang menurutmu paling indah dan jangan berbalik ke belakang." Kemudian dia melakukannya. Namun, Aristotle kembali dengan tangan hampa. Gurunya bertanya, "Mana bunganya?" Dia menjawab, "Saya tidak bisa mendapatkannya. Sebenarnya saya telah menemukannya. Tapi saya berpikir di depan masih ada yang lebih bagus lagi, dan ada yang lebih bagus lagi. Tapi ketika saya sampai di ujung taman, saya baru sadar bahwa yang saya temukan pertama tadi adalah yang terbaik. Tapi begitu saya kembali ke tempat saya membuangnya, bunganya sudah tidak ada, karena sudah ada yang mengambilnya dan menyadari kalo itu adalah bunga terindah di taman itu." Gurunya berkata, "Seperti itulah cinta sejati. Semakin kamu mencari yang terbaik, semakin kamu sadar kalau kamu tidak akan pernah menemukannya."

Jadi... biar tau dia cinta sejati lo atau bukan gimana.... ya cuma satu sih intinya.
Dia bisa nerima lo ketika mata lo belekan, ketika pipi lo banyak bekas iler di pagi hari, atau ketika upil lo menggantung antara ingin dan tidak ingin jatuh di hidung, ketika pinggiran bibir lo berbuih klo lagi ngomong, dll. Di saat jelek-jeleknya lo itulah Dia tetap ingin di samping lo, nemenin lo di saat up dan down, dan yang pasti dia gak akan ninggalin lo, bahkan TERFIKIRKAN untuk ninggalin dan nyari yang lebih dari lo aja gak pernah terlintas.

Ya agak ekstrim juga sih gue ngasih contoh kayak di atas. Cinta sih cinta, tapi klo tiap hari ngeliat yang begituan juga agak gimanaaa ya. Hahaha... Maksud gue adalah ketika ada seseorang yang bisa liat lo at the lowest point of your life ya dia lah orang yang patut dan harus lo perjuangin. Gue selalu ingat apa yang pernah dibilang sama Marilyn Monroe "If you can't handle me at my worst, then I'm sure as hell you don't deserve me at my best."

we need Rain to spell 'Rainbow'

Life is simple
if someone is meant for you
they'll stick long with you 'til... who knows when.
But if they're not,
they'll leave soon before we even realize
that they mean somebody to us.

Losing someone is painful.
But the way I see it,
You can't really spell the 'rainbow' without the 'rain'
So, keep your eyes focused on the rainbow at the end of the rain
no matter how heavy the rain is
Bigger and better things to come!

I love you. And that's all I know.

Don't love me if you're going to end up hurting me.
I used to be so strong,
now I cry so much,
I don't even know what's wrong.
It was bullshit after bullshit after bullshit.
Before you want or demand anything more,
see just how much you own
and how much you could have lost,
then maybe you'll know how much you have in life.
I feel like I'm dying inside.
Little by little.
I feel numb.
I don't miss you,
I don't think about you,
I just stopped caring I guess.
I realized how much I've cared and how unappreciated I felt.
And then I realized that I just have to love myself enough to walk away.
Just be done with you.
I mean, I know I'm not perfect...
But I love you, with all my heart, I do.
I guess I'm not as tough.
Or at least,
I thought I was enough.

It's just in the mind

sometimes we don't dare to be honest to our feelings because the truth is too hard to swallow. Because you've heard the promises before. You've heard all the nonsense you've believed before. You're worried because you simply don't want to end. You don't want it to end because if it ends, you're hurt. Love makes you vulnerable, doesn't it?

But reality means pain. And pain is good sometimes. Pain means you're living. Living means you're growing. And sometimes you won't know if it's really love until it's over.

Pain is just in your mind. But when you feel so down, just remind that love doesn't always mean true. Near doesn't always mean close. Far doesn't always mean distant. New doesn't always mean exciting. Different doesn't always mean better. And putting up with the future doesn't mean you're ready for it. So is letting go.

Moving on is not as easy as taking off all of your clothes and get naked. Some people do it all the time. But it's about opening up your soul to someone, letting them into your spirit, thoughts, fears, future, hopes, dreams. Maybe what sucked was because in the back of your mind, you had the perfect picture of how it's going to be. You wished that they've known what you've wanted. You wish that when you said you didn't want to go, they'd still wanted you to go. You wish that when you hung up, they'd call you. There's never a guarantee if the person you're with will be there for the rest of your life.

I know people keep asking if he or she is the one, but you'll never know. But what you know is that you intend to make him or her the only one. And that's enough.

Just believe in what you're doing

Happiness comes from doing what you love, no matter how many people think the opposite. Your environment shouldn't prevent you from being happy. Just believe in what you're doing and be happy about it. Everything else follows.

You have to learn to follow your heart. You can’t let other people pressure you into being something that you’re not. If you want God’s favor in your life, you must be the person He made you to be, not the person your boss wants you to be, not even the person your parents or your husband wants you to be. You can’t let outside expectations keep you from following your own heart.- Joel Osteen

What the present is

my past taught me about doing things that you love and maybe looking through life every now and then on who should stay and who should go. Life, from the beginning, was never certain, so might as well just live with it and do what you love and everything will follow. Happiness, money, even love. Every goodbye is going to reward you with another hello.
That's what the present is. It's a little unsatisfying. Because life's a little unsatisfying.

Sabtu, 04 Februari 2012

suka tidak suka

Aku tidak suka dihadiahi puisi.
Terlalu melankolis.
Terlalu melebih-lebihkan rasa.
Terlalu membual.
Tapi aku suka ketika membaca sebuah karya puisi yang dihadiahkan oleh pembuatnya untuk orang lain.
Terlihat romantis.
Terlihat tulus.
Terlihat jujur.
Bahkan kadang aku merasa iri karena bukan aku yang dihadiahi puisi itu.
Huh!

Aku suka berbicara, aku bawel, kadang terlalu bawel.
Karena aku suka membicarakan hal-hal baru yg aku dapat
dan membaginya kepada teman-temanku.
Rasanya senang bisa berbagi pengalaman dan pengetahuan baru.
Tapi aku tidak suka kalau harus berbicara tentang curahan isi hatiku.
Aku lebih suka menulisnya.
Entah di blog, tumblr, twitter, notes fb, ataupun di message via ввм.
Ya, aku lebih baik mengetik panjang lebar drpd mereka melihat langsung mimik wajahku saat membicarakan hal yang berbau-bau hati itu.
Aku tidak mau terlihat seperti orang gila, berbicara tanpa berhenti tersenyum.
Aku tidak mau terlihat seperti orang putus asa, berbicara tanpa berhenti menangis.
Aku tidak mau terlihat seperti orang yang pemarah, berbicara tanpa mengontrol emosi.
Oh iya, aku benci kalau harus berbicara ataupun menulis tentang hal
yang isinya keluhan.
Ah aku benci mengeluh. Terlihat lemah. Aku tidak mau orang lain menganggapku tidak semangat dalam menjalani hidup.

Aku suka duduk berlama-lama di depan cermin.
Mengoles warna di wajahku.
Rasanya seperti sedang melukis.
Aku seniman! Setidaknya ketika sedang merias diri.
Tapiiiii....
Aku lebih suka duduk berlama-lama di depan cermin
ketika baru saja bangun tidur.
Membersihkan mata dari belek.
Merapihkan rambut yang kusut karena bergulat semalaman dengan bantal.
Mengambil nafas... Dan menghembuskannya...
Memaksa membuka mata yang masih ingin menutup.
Ritual ini aku sebut proses pengumpulan nyawa.
Aaah aku merasa seksi melakukannya. Hahaha...

Aku tidak suka merasa sendiri.
Risih rasanya ketika merasa kesepian di tengah-tengah keramaian.
Aku tidak suka merasa kosong,
seolah tidak dipedulikan keberadaannya.
Aku sungguh tidak suka kegiatan diam-diam menangis tersedu sedan
di bawah selimut.
Tidak enak rasanya.
Oleh karena itu...
Aku suka membuat orang lain merasa nyaman saat bersamaku.
Saking nyamannya,
sampai-sampai mereka mau membagi bebannya kepadaku,
meminta pendapatku,
meminta saranku,
atau hanya sekedar ingin mengeluarkan unek-uneknya.
Yah, yang jelas jangan sampai mereka merasa tidak ada orang yg peduli.
At least, aku ada sebelum mereka merasa tidak ada siapa-siapa.

Aku suka berdiri di TransJakarta.
Karena aku bisa melihat panorama di luar sana.
Yah memang tidak indah.
Tapi setidaknya aku bisa melihat bagaimana mobil dan motor saling berebutan masuk busway.
Aku bisa melihat orang-orang yang sedang memadati lokasi tragedi Afriyani.
Aku bisa melihat ketika polisi menyetop kendaraan dari segala arah karena adanya iring-iringan mobil berplat RI 1.
Daripada aku harus duduk dan diam.
Ah aku tidak suka kegiatan pasif.
Duduk, diam, lalu ngantuk.
Sejauh mata memandang hanya ada orang2 yg penuh sesak memadati TransJak.
Sejauh mata memandang lagi, ada laki2 duduk dan di depannya seorang wanita paruh baya.
Ah gender sudah mulai kebolak balik.
Emosi melihatnya.
Lebih baik mendengarkan lagu dan memejamkan mata.

Aaaand yaaay! Save the best for the last!
Aku suka Jersey!
Aku suka buku!
Mereka pasangan cocok.
Tidak, aku tidak suka yang lain dulu.
Aku hanya suka jersey dan buku.
Tolong..
Hadiahi aku kedua benda itu tepat di 24 Februari nanti ya :p

Jumat, 03 Februari 2012

sincerely, your little girl.

Ayah,

Ingat tidak?
Dulu setiap gadis kecilmu menangis terseguk
Dia selalu menghampirimu dan mengadu,
"Mamah marahin aku gara2 gak mau tidur siang"
Dan kemudian kau memangku gadis kecilmu,
mengusap air matanya,
memberikannya bahumu sebagai tempat bersandar
dan membiarkan air matanya membasahi bajumu.
Ingat tidak?

Gadis kecilmu merasa aman dan nyaman
tiap kali membenamkan wajahnya di bahumu.

Ingat tidak?
Saat itu kau mengambil kemoceng dan memetik bulunya.
Lalu kau berkata pada gadis kecilmu,
"Ayo coba bilang sesuatu sama dia, nanti dia sampein ke Tuhan"
Sambil menyeka pipinya, gadis kecilmu meminta,
"Semoga mamah gak pernah marahin aku lagi"
Lalu kau meniup bulu itu dan ia pun terbang ke atas.
Saai itu kau berkata padanya,
"Udah terbang deh ke tempat Tuhan"
"Loh? Nanti dia balik lagi?
"Nggak dong.. Eh kayaknya jawaban dari Tuhan udah ada nih"
Lalu kau mengambil bulu dari kemoceng yang sama
dan memberikan pada gadis kecilmu.
"Tuhan blg, kamu jgn bandel biar mamah gak marah lg"
Gadis kecilmu tertawa mendengar jawaban itu
dan langsung beranjak dan berlari dgn senang menuju kamarnya.
Gadis kecilmu sempat berkata, "aku mau tidur skrg ah"
sebelum menutup pintu kamarnya.
Ingat tidak?

Gadis kecilmu kini berubah menjadi seorang wanita.
Dia sudah bekerja dan menghasilkan uang sendiri.
Dia tidak pernah mau mengemis padamu lagi.
Tidak pernah mengadu padamu lagi ketika masalah menyapanya.
Tapi kau seperti biasa..
Selalu memaksanya untuk menerima uang pemberianmu.
Dia selalu menolak, "aku punya duit sendiri kok, hehehe"

Tapi kau tetap memaksanya.
Itu sudah semacam ritual pagi di rumah kita
sebelum aku berangkat kerja,
Iya kan, Ayah?

Tapi kenapa pagi ini..
Kau berkata seolah-olah aku bukan gadis kecilmu
yg dulu pernah kau beri rasa nyaman dgn kata-katamu.
Kau berkata seolah-olah aku adalah parasit.
Kata-katamu sungguh menamparku.
Mereka tidak perlu tahu apa yg kau katakan.
Cukup aku dan mamah saja yang tahu.
Mungkin kau semakin tua sehingga mudah lupa.
Tapi terimakasih..

For you my dear daddy,
I can stand on my own feet.
Save your money for mommy and sister
because I have my own money.
Thanks for the words.
It slaps me enough.

By the way, I'm still your little girl.
Sorry for the tears.
I'm not that strong enough
to hold the tears.

be-be-em

Well jadi gini.. Malam ini hampir seluruh pengguna BlackBerry ngeluh soal fenomena kelumpuhan total BlackBerry Messenger atau yang sering kita sebut ВВМ. Semua pun serempak mencaci maki ВВМ via Twitter. Mereka tadinya ngira ini ulah provider yang suka ngaco, tp ternyata hampir semua pengguna bermacam-macam provider mengeluhkan hal yg sama yakni "ВВМ knp cuma centang doang sih!". Ah hal ini mah gak akan jadi masalah buat yg jomblo. Ya gak, Blo? *ngomong sama kaca*

Nah, gara-gara fenomena ВВМ Ceklist doang ini, gue baru aja menemukan fakta baru yang well sempet bikin kesel tp yaudahlah yaaa.. Bukan, gue bukan mengetahui fakta knp ВВМ jadi ngaco. Bukan sama sekali. Hemmm.. Gini.. All I wanna share with you guys is about love fact.

Sebelumnya fenomena ini terjadi, gue sedang asik BBM-an sama beberapa temen gue dan salah satunya adalah 'temen' gue. Kami gak TTM-an, gak HTS-an, gak sahabatan, ataupun adek-kakak-an. Bukan mimi-pipian juga kok. Hwehehe.. Kami murni hanya sebatas temen. (Yah setidaknya itu menurut dia, bukan menurut gue)

Kalian pernah dong ya denger ungkapan kalo cewek dan cowok yang sedang menjalin sebuah pertemanan, yang hanya melibatkan diantara keduanya aja, pasti salah satunya ada yg pake hati. Entah itu di awal pertemanan, cuma sekelabat, ataupun yg bersifat selamanya. Nah dalam hubungan pertemanan kami, salah satu yang memakai hati adalah gue! Oke gue tekankan sekali lagi: Gue, Dila, si pemakai hati. Bukan aib juga kan suka sama temen sendiri? Apalagi status kami masih sama-sama single. Tapi gue juga bukan orang yang mudah memberi hati buat siapa aja. Itu biasanya harus pake proses. Gak bisalah dikasih awal-awal. Dan yak, gue adalah penganut aliran yang GAK percaya sama sekali dengan cinta pada pandangan pertama. Semua melalui proses.

Apa? Gue bego? Gue gak berusaha buat ngontrol perasaan? Gue terlalu mudah percaya lalu berharap? Lemme say this word, NOT! I always try to warn my self "hati lo mati, Dil. Apa-apa yg udah mati jgn dihidupin lagi. Nanti jd arwah penasaran malah jd serem" dan selalu gue tempelkan kertas di depan jidat gue dengan tulisan gede-gede "DON'T EXPECT TOO MUCH IF YOU DON'T WANNA BE HURTED" tapi ya bisa apa lagi gue ketika LOGIKA gue KALAH bersaing sama PERASAAN. Oh let me say "sometimes I hate being a woman plus a pisces". Udah jadi rahasia umum kalo HAMPIR semua cewe mudah memakai perasaan ketika mereka menghadapi sesuatu yang terjadi dalam hidupnya. Okey, dalam hal ini, sebuah hubungan pertemanan. Well, gue bilang HAMPIR, jadi ada beberapa cewe yg mungkin logikanya lebih menang dibanding perasaan. Dan dengan bersedih hati gue katakan, gue bukan cewe yg beberapa itu, gue cewe yg masuk kategori hampir. Bisa dicek juga gmn kepribadian Pisces. Mereka tulus. Terlalu tulus untuk berteman. Dan terlalu tulus ketika harus memberi hatinya ketika udah sayang sama seseorang. And I hate being like that. Sometimes.

Gue sadar, sepenuhnya sadar, kalo hubungan gue dengan dia amat sangat pure temenan. We're just friend and nothing juicy going on. Tapi pengalaman gue kurang, sedikit, dan yeah cupu. Gue nggak pernah jalan berdua di malam minggu (dan terjadi hampir sering) dengan temen lelaki gue. Belom pernah ada temen lelaki gue yg mau downloadin lagu2 yg gue suka terus dibikin 1 folder di mp3 nya dan didengerin di mobilnya pas lagi jalan bareng sama gue. Blm ada temen lelaki gue yg berani ngerangkul pundak gue cuma buat sekedar turun naik eskalator atau masuk lift atau ketika gue salah arah jalan. Blm pernah ada jg temen yg selalu usaha antar jemput ke rumah cm buat dinner dan nonton di mlm minggu, jarak rumah yg cukup jauh amat sangat perlu effort yg gede buat ngelakuin itu, dan gue sangat menghargai hal tersebut. Well cupu ya gue gak pernah pny temen cowok yang kayak gitu. Gue tegasin sekali lagi TEMAN, buat PDKT-an loh ya. Dan karena kecupuan gue itulah hati gue tersentil tiap kali gue usaha denial dgn bilang "kita temenan" and yeah sometimes I wish we're more than just friend. So hard to try hiding my heart away. I wish someday I could tell you about this. Tapi gue cupu. Gak berani. Gue takut. Takut untuk sakit hati sekali lagi. Actually you've opened my heart, you took away all my pain and burned them away. But still, I'm in doubtful and you haven't take it away.

Okay back to business: Ketika biasanya tanda D di ВВМ butuh waktu belasan atau puluhan menit untuk berganti jd R dan menjelma kemudian menjadi sebuah pesan darinya. Selama ini gue akan selalu meyakinkan diri gue sendiri dengan berasumsi "dia sibuk makanya lama, bukan krn males bls ввм lo kok." Untuk malam ini apalagi cuma tanda ceklist karena ВВМ error. Semakin teredam lah pertanyaan "lagi apa ya kira2? Ini jgn2 dia males bls. Jgn2 gue ganggu apa ya?" Yang selama ini muncul tanpa diundang. Dengan niat mau ngetest Whatsapp berfungsi dgn baik atau nggak, gue message ke dia (well yes I was stupid in these case, knp gak message ke temen2 lain aja?) Tapi niat sebenernya adalah.. Pengen tahu aja posisi dia dimana. (Denial lagi. Rindu yg maksa, wooo sorakin Rindu wooo! Sekali lagi wooo!)

Dalam dunia perWhatsapp-an, centrang 1 tandanya D, centrang 2 tandanya R dan yg terjadi adalah dengan sangat cepatnya pesan itu bertanda centrang 2. Dibales? Nggak. "Oh sorry my friend, if I bore you get out of my way. This one’s for you. So cut me a break cause I can’t wait. I’m the same I was when we first met. And now I feel you’re pulling away. So just give me the word. And I’ll leave today. But if you want me to I’ll be the one for you. Maybe I can save your life. At times you’ve hated me, ain’t that how love should be. So just let me save your life."

But well, happy to say this tonight. Gue yakin sama dia. Gue percaya sama dia. Pertanyaan gue terjawab malam ini ketika ВВМ lumpuh total. Dia tulus sama gue. Tulus temenan.

Sabtu, 28 Januari 2012

hati-hati, Hati.

Brain: Aku sudah memperingatkan mu sebelumnya, Heart.

Heart: Dan aku mengabaikan mu, Brain. Tolong, lain kali peringatkan aku lebih keras lagi.

Brain: Bukan aku yang kurang keras. Tapi kamu yang sudah tidak waras, berani merindu tanpa rasa was-was. Kamu juga harus keras, Heart. Jangan terlalu lunak agar hujan yang turun menyentuh pipi tidak terlalu deras.

Heart: itu hukuman untuk mata agar bekerja keras memproduksi kelenjar air mata. Dia terlalu nikmat melekat dekat dengan pemilik mata di seberang sana.

Brain: jangan menyalahkan organ lain, Heart! Itu memang tugasnya untuk menangkap segala sesuatu yang ada di sekelilingnya. Termasuk dia yang di seberang sana. Justru kamu yang menyiksa mata untuk bekerja lembur sampai larut. Jangan terlalu sering menggunakan perasaan, Heart.

Heart: hei Brain, itu tugasku untuk merasakan segalanya tanpa batas!

Brain: kalau begitu apa gunanya aku? Aku ini pelindungmu. Aku berusaha untuk selaras denganmu. Aku ingin kita jalan berdampingan, bukan bertentangan.

Heart: .....

Brain: Aku tidak ingin kamu merasa sedih. Sudah cukup, Heart. Aku ingin kamu merias diri dengan warna-warna indah agar kamu terlihat anggun dan tidak usang seperti sekarang ini. Aku tidak mau lenyap tenggelam dan hanyut terbawa oleh perasaan. Izinkan aku tetap ada. Jangan egois.

Heart: .....

Brain: kamu akan selalu menang, Heart, di tubuh wanita ini. Aku... Entah untuk kesekian kalinya selalu mengalah.

Heart: Oh Brain, kamu sudah merasa putus asa kah? Kamu curang! Merasa adalah tugasku.
Jangan mengambilnya dariku!

Brain: tidak, tidak begitu. Ah kamu ini, benar-benar perasa! Aku baru bicara seperti itu sudah dianggap putus asa. Kamu harus belajar megasah rasa, agar dapat membedakan tiap rasa yang ada. Tidak heran mengapa kamu sering mengabaikanku ketika yg di seberang sana memberimu perlakuan yang -errr menurutku biasa saja- spesial.

Heart: maafkan aku, Brain. Aku sadar, dia memudar. Mata sudah menangkap punggungnya semakin menjauh dan sulit untuk direngkuh.

Brain: aku sudah sadar itu sejak dulu. Pesanku sudah kamu terima kan?

Heart: pesan yang mana?

Brain: Kamu benar2 mengacuhkanku, Heart. Oke, aku resend ya. Tunggu sebentar.

(.....)

Brain: *resend* "Dear Heart, dia hanya penasaran padamu. Setelah dia tahu kalau kamu akan menyerahkan diri padanya, dia akan pergi... Bukan, ini bukan tarik ulur. Dia pergi untuk mencari tantangan baru dari hati lain yang membuatnya penasaran. Dan akan begitu seterusnya. Entah sampai kapan. Tapi kamu tidak akan menunggunya untuk kembali padamu kan? Ah jangan, Heart. Akan ada seseorang yang menyerahkan hatinya untuk bersanding denganmu di sini. Sabar, Heart. Jangan mudah terperangkap. Nanti kamu terjerembap. Hanya rasa sesak yang kamu dapat kalau sudah begitu. Pesanku, hati-hati, Heart."

Heart: *mengirim tugas pada mata untuk memproduksi air mata yang sudah hampir mengering, "aku membutuhkannya nanti, untuk moment bahagia ya. Oiya setelah itu beristirahatlah kamu. Maafkan aku"*

Brain: *resend* "Heart, dia yang akan memberimu hati tidak akan pernah melepasmu. Tidak ada teori tarik ulur atau mencoba mengetes apakah kamu akan mencarinya kalau dia menghilang. Justru dia akan panik mencarimu ketika kabar darimu tak kunjung diterimanya. Ingat, Heart. Secuek-cueknya lelaki, sekaku-kakunya sosok itu, dia akan melakukan apa saja agar mendapat kabar dari wanita yg ingin dimilikinya. Dia hanya akan memberimu rasa tenang dengan memberikan kepastian dari setiap ragu yang datang."

Heart: Brain... Kemana saja aku selama ini sehingga mengacuhkan pesan-pesan darimu.

Brain: *resend* "Heart, Kita harus bicara! Bukan dia orangnya, Heart. Dia tidak akan mencarimu. Sudah kamu jangan pura-pura memudar lagi. Percuma. Perlakukan dia layaknya seorang teman biasa. Jangan terlalu dirasa kalau tidak mau terluka. Hati-hati, Heart."

Heart: Brain, lindungi aku. Aku tidak mau terjerembap.

Jumat, 20 Januari 2012

cerpen episode: Mochachino Versus Hot Chocolate (JLEB 2)

Sore itu, langit Jakarta lagi-lagi bermuram durja. Awan-awan hitam sudah menari-nari di atas sana menyelimuti langit biru.

"Hadeeeh sebentar lagi pasti ujan!" Gumam dedek yang menatap nanar ke arah langit dari balik jendela kedai kopi favoritnya. "Semoga gak hujan angin yah, Tuhan..." Pintanya dalam hati.

Ini sudah cangkir kedua yang dipesan Dedek selama dia duduk di kedai kopi favoritnya. Dia sengaja datang lebih awal agar bisa merileksasikan dirinya sebelum beradu argumen lagi dengan Echi, sahabatnya yang memiliki mulut setajam silet.

Echi mulai menampakkan cepolan rambutnya yang super duper tinggi dari arah pintu masuk. Aroma vanilla yang berasal dari tubuh Echi seketika menyeruak ke seluruh ruangan mengalahkan aroma kopi yang dibuat oleh bartender. Echi memang terkenal cukup lebay dalam menyemprotkan parfume. Entah berapa ratus juta perminggu yang harus dia keluarkan demi sebotol kecil parfume bermerk, ah entahlah merknya apa.

"Hay sayaaang... Tumben lo ontime? Biasanya ngaret!" Echi membungkukkan badannya dan mencium pipi Dedek. "Are you okay, Dek? Lo terlihat kayak cewek-cewek depresi yg abis dibully tau gak!" Echi menaruh tas nya lalu pergi ke kasir untuk memesan Hot Chocolate favoritnya.

"Well, I'm all your ears now" kali ini Echi tersenyum hangat sehangat minuman cokelat yang diseruputnya.

Dedek menghela nafas panjang, "Chi, lo bener. Gue gak bisa bilang lagi klo gue gak pake hati sama B"

Mimik wajah Dedek membuat Echi benar-benar tersadar akan satu hal yang terjadi mengenai sahabatnya itu, "Dek, lo sayang sama dia?" Echi memelankan suaranya.

"Pertanyaan retorika tuh, Chi. Hehehe" senyum itu akhirnya muncul juga dari bibir Dedek. Sudah hampir 1 jam dia di sana dan belum ada satu pun senyum yang menghiasi wajahnya. "Perlu gue jawab lagi?" Tanya Dedek sinis.

"Tuh kaaan Dedeeeek" Echi menaruh cangkirnya yang sejak tadi masih dipegangnya. "Sejak kapan lo buka hati lo lagi? Bukannya kunci hati lo belom dibalikin sama Aung?" Kali ini Echi seperti sedang mengintogerasi seorang maling.

"Gak tahu sejak kapan. Tapi yang gue tahu, kita gak pernah bisa menyadari kapan, bagaimana, dan kenapa sesuatu itu terjadi kalo sangkut pautnya udah sama hati" Dedek terdiam sejenak, meminum mocachino nya yang sudah mulai dingin. "Dia masuk gak pake kunci, tapi gue sendiri yang mempersilahkan" lanjut Dedek.

"Chi, dia dateng gak kayak maling. Yang bawa pergi barang2 berharga pemilik dan ngebiarin isi rumah pemilik acak-acakan gitu aja. Dia masuk, karena gue yang mempersilahkan. Dia pergi pun karena gue yang mengizinkan" Mata Dedek mulai berkaca-kaca. Echi memperkisarkan bahwa hanya dalam 1 kedipan, bukan hanya langit yang mengeluarkan air hujan, tapi sahabatnya juga.

"Dek itu modus. Dia berpenampilan layaknya seorang tamu biar bs masuk ke rumah lo dan mengamati tiap barang berharga yg ada di rumah lo. Dan tanpa sadar dia udah menghipnotis lo sampe akhirnya dia bisa keluar dari rumah lo dengan seizin pemilik rumah" Echi memegang bahu sahabatnya, "tanpa lo sadari, dia udah ambil semua barang berharga di dalam rumah itu"

Mereka kini sama-sama terdiam. Echi sibuk mengaduk-ngaduk Coklat hangatnya. Sedangkan Dedek sibuk melihat orang-orang yang hilir mudik mencari tempat berteduh agar tidak kehujanan.

"Mungkin awalnya emang dia gak bermaksud ngerampok, Dek. Tapi karena lo yang ngasih kesempatan dia masuk rumah, jadi deh timbul niat" Echi memecahkan keheningan yang terjadi cukup lama diantara keduanya.

"Chi, klo posisi gue di tiap sabtu malem bareng dia diganti sama cewek lain gimana ya?" Dedek tidak melihat ke arah Echi, dia sedang asyik melihat pemandangan di luar kedai. Seorang pria yang sedang sibuk menutupi kepala wanitanya dari guyuran air hujan agar wanitanya tidak sakit.

"Ya gak gimana-gimana lah. Lo mau terus-terusan jalan sama dia tapi dia gak liat lo sebagai Dedek. Dia liat lo sebagai cewek lain. Cewek yang selama ini dia sayang. Dan lo tau kan siapa itu cewe? Bukan lo kan? Lo mau?" Echi mulai mengeluarkan potongan-potongan silet dari bibirnya sampai-sampai membuat Dedek mengalihkan pandangannya dari laki-laki yang sibuk melindungi wanitany di luar sana dan memandang kesal ke arah Echi.

"Ya gak mau lah! Lo gila apa? Mana ada cewek yg mau digituin" Dedek menyambar coklat hangat yang sekarang berubah jadi dingin milik Echi dan menyeruputnya tanpa izin dan tanpa berdosa. "Gue harus minta kepastian" baru kali ini Dedek dengan lantang membuka suaranya.

"Emang dia ngasih lo keragu-ragu-an sampe2 lo harus nuntut kepastian?" Tanya Echi membuat Dedek semakin tersilet-silet. "Tanda-tanda apa dari dia yang nunjukin kalo dia sayang sama lo? Pernah dia nelpon lo sekali cuma buat blg "lg apa?" Pernah gak?" Pertanyaan Echi semakin tajam. Kalo Dedek sebuah kain, mungkin Dedek adalah kain rombeng yang udah dirobek-robek sama Echi.

Dedek kembali terdiam.

Echi melanjutkan, "dari awal emang salah lo yang udah ngizinin orang asing masuk ke rumah padahal rumah lo masih acak2an isinya".

"Nggak gitu, Chi. Dia ngebantu gue beres-beresin rumah. Rumah gue udah rapih. Dia pergi. Mungkin bener kata lo, gue gak sadar dia udah ambil barang berharga waktu kami lagi beres-beres rumah" Dedek memperlihatkan sederet giginya ke Echi.

"Woo jelek lo klo lagi nyengir!" Echi melempar tisu yang digunakannya untuk mengelap bibirnya yang penuh ampas cokelat. "Gue curiga! Kalian udah ciuman ya sampe2 lo gak rela gitu dia sabtu maleman sama cewe lain. Hahahahaha panteees muka lo kyk abis dibully! Sedih beneeeer!" Goda Echi sambil memonyongkan mulutnya mirip Tukul Arwana.

"Eh sembarangan! Nggak laaah! Hahahaha" Dedek hampir saja menyemburkan mocachino nya yang baru saja diseruputnya.

"Gue tau Dek yang paling bikin sedih yang akan lo alami apaan" Echi membenarkan cepolan rambutnya yang mulai menurun. "Yang paling menyedihkan adalah ketika kita kangen sama seseorang tp gak punya keberanian untuk blg ke orangya. Dan ketika kita tahu faktanya klo rasa kangen kita... gak berbalas"

Dedek mengangguk-anggukan kepalanya dan kemudian memberi senyuman termanisnya untuk Echi, "rindu satu arah secara diam-diam."

Kamis, 19 Januari 2012

"Look After You"

(Kali ini gue akan berkisah tentang sorang teman baik gue, Echi, dengan seorang teman prianya. Sedikit gue jelasin di sini, Echi dan temannya itu emang udah sering jalan bareng. Biasanya mereka pergi berdua di Sabtu malam. Gue nggak akan pake kata "Malam Minggu" karena kata itu cuma cocok dipake bagi mereka yang kencan dengan PACARNYA. Sedangkan Echi dengan cowo ini cuma sekedar teman)

Sabtu sore di 2012

- Dari kejauhan Echi udah ngelihat mobil temennya itu. Agak deg-deg-an juga sebenernya, karna kalo diinget-inget ini pertama kalinya mereka jalan lagi setelah hampir 3 minggu vakum. Dan ya, ini pertama kalinya bagi mereka jalan bareng di tahun 2012.

(Gak perlu gue deskripsiin lagi lah ya segimana rasa kangennya Echi sama si Panjul. Kalo aja ada hubungan resmi yang mengikat mereka, mungkin Echi gak akan segan-segan langsung meluk Panjul ketika dia masuk mobil dan melihat sosok Panjul yang lagi tersenyum duduk manis di balik setirnya)

"Panjuuul... potong rambut ya?" Goda Echi sambil menyolek lengan Panjul.
Panjul langsung membenarkan jambulnya yang sudah pendek, "yoooi... ganteng gak gue?" sambil melirik ke arah Echi.

Namun entah kenapa sore itu Echi seperti enggan melepas bb dari tangannya. Dia terus membalas bbm dari teman-temannya dan mengacuhkan Panjul. (Hellooow Echi, di sebelah lo lagi ada Panjul loooh! orang yang lagi lo kangenin banget! bisa buang dulu bb nya?)

"Eh jaket kulit lo beli dimana?" Panjul mencoba membuka topik obrolan. Namun entah kenapa (lagi) Echi hanya menjawab, "kasih tauuu gak yaaa" dan sama sekali tidak melihat ke arah Panjul.

"Nggak sih, cuma pertanyaan basa-basi. Biar gak diem-dieman aja", sindir Panjul.

Di tengah perjalanan menuju sebuah Mall di kawasan Jakarta Selatan, Echi mengamati wajah orang yang duduk di sebelahnya. Dilihatnya wajah itu nampak makin segar dengan gaya potongan rambutnya yang baru.

"Panjuuul... i miss you" tentu saja Echi mengucapkannya di dalam hati.

-----------------------------
Sabtu malam di 2012:
(Mall)

- Entah untuk kesekian berapa kalinya, Panjul selalu complain dengan heels yang digunakan Echi. Menurutnya, heels merusak kesehatan, terutama di bagian punggung wanita. Dan entah juga untuk kesekian ratus kalinya Echi melemparkan pembelaandiri, "suruh siapa lo tinggi bener? kan gue jadi jomplang klo jalan di sebelah lo."

Dan malam itu, Echi merasa tingkah Panjul tidak seperti malam-malam biasanya. Biasanya Panjul hanya merangkul bahu Echi ketika hendak menaiki eskalator. Tapi kali ini Panjul tidak hanya merangkul Echi. Tiba-tiba saja Panjul mengulurkan tangannya kepada Echi dan langsung disambut oleh Echi. (ecieeee aaawww, awwwww, aaaaawwwww!)

Kini mereka sudah berada di depan restoran Jepang yang terkenal dengan kelezatan sushinya. Tentu saja mereka harus waiting list. Echi melihat ada sebuah papan di depan restoran tersebut. Dengan rasa penasaran Echi menghampiri papan tersebut dan melihat-lihat tulisan yang ditempel di sana. Ternyata papan tersebut adalah papan yang berisi ucapan-ucapan dari para pelanggan untuk Hari Ulang Tahun restoran tersebut. Panjul tepat berdiri di belakang Echi. (Orang-orang yang liat mereka pasti ngiranya mereka itu pacaran. Tapi sayang sekali sodara-sodara, mereka hanya temenan. Muahahaha)

"Jul, Kita nulis juga yuk!" Ajak Echi semangat dan langsung mengambil pulpen yang sudah disediakan di papan tersebut.

"iya lo aja" Jawab Panjul malas-malasan.

"bangun cabang di Perpus UI yah!" tulis Echi di atas kertas kecil pink yang berbentuk ikan. Dia juga tidak lupa mebubuhkan namanya di atas kertas tersebut. Echi melihat Panjul, ternyata Panjul sedang memperhatikan apa yang ditulis Echi. Sambil tersenyum Echi menuliskan namanya, "dari Echi", dia terdiam sejenak. (Echi tuh lagi mikir "perlu gak gue nulis nama Panjul di sebelah nama gue?" hahaha tapi gak jadi. Dia malu)
---------------------------------------
(Mobil)

- lagi-lagi Echi kembali terdiam di dalam mobil. Dia hanya memainkan bb nya. Membuka twitter, mengecek email, membaca risetan, dan membalas bbm teman-temannya yang sedang merencanakan untuk pergi ke Jogja. Jalanan malam itu lumayan padat merayap. Panjul juga nampak kelelahan mengendarai mobilnya yang bukan matic sejak siang tadi. Tanpa diduga-duga, Panjul menaruh tangannya di jok Echi sehingga jarak wajah mereka hanya terpaut beberapa senti saja. (Gue tau banget si Echi deg-deg-an! hahaha semoga usahanya nutupin rasa salting berhasil. hehehe)

Panjul mendekatkan wajahnya di wajah Echi. Dia sepertinya geregetan dengan tingkah laku Echi yang autis dgn bb nya. Dia mencubit pipi Echi, menarik-narik kecil rambut Echi, dan mengacak-acak rambut Echi. Panjul sepertinya sadar kalau Echi gugup. Panjul seperti sengaja mendekatkan lagi wajahnya ke wajah Echi. "Komedoan ya" bisik Panjul yang akhirnya menghadiahkan sebuah tonjokan kecil di bahunya dari Echi. "Apaan sih, gak penting deh!" Jawab Echi kesal. Kalau saja ada cahaya terang saat itu, mungkin Panjul bisa melihat wajah Echi yang merah mirip kepiting rebus.
---------------------------------
(Bioskop)

- Mereka duduk di sofa panjang menunggu pintu studio dibuka. (gak usah diceritain detail juga lah ya mereka nonton apa dan jam brp. Capek gue ngetiknya breeey) Echi (lagi-lagi) menatap Panjul. Banyak pertanyaan yang muncul di benaknya ketika dia menatap wajah temannya itu.

"sebenernyaaa kita gimana sih, Jul? Ini PDKT apa bukan? Lo lagi flirting or just being nice? Kalo emang iya ini PDKT, knp lo cuek bgt di bbm? Knp jarang bgt bbm? Bahkan nelpon pun gak pernah. Cuma kalo lagi mau jalan aja baru nelpon. Sebenernyaaa lo lagi deket sama siapa sih? Sabtu malem sama siapa selain sama gue? Lo gini juga gak sih ke temen cewe lo yg lain? sebenernyaaa... gue..."

"heh! ngapain sih liatin mulu?" Panjul membuyarkan lamunan Echi.

"Hah? Nggak" Echi menutupi rasa saltingnya.

"Nggak pernah liat cowok ganteng ya?" Goda Panjul sambil tertawa.

Di dalam bioskop Echi pun tertidur. Dia menyandarkan kepalanya di bahu Panjul. Tadinya Echi sempat mengira kalau Panjul akan melingkarkan tangannya di bahu Echi ketika Echi tertidur di bahunya. (Hikikikikik untung Panjul gak kurang ajar ya Chi, gak nyari kesempatan dalam kesempatan)
------------------------
(mobil)

"Jul maaf ya... daritadi gue diem terus. Gak maksud apa-apa, cuma lagi males ngomong aja" Echi menyesal. Harusnya ini menjadi moment yang menyenangkan lagi setelah lama tidak bertemu.

"it's not a big deal" Ujar Panjul datar.

Dan selama di perjalanan mereka saling berdiam diri. Entah karena saling menikmati lagu yang sedang diputar, atau sedang sama-sama menebak perasaan orang yang sedang duduk di sebelahnya.

(lagu yang sedang diputar: The Fray - look after you)

If I don't say this now I will surely break
As I'm leaving the one I want to take
Forgive the urgency but hurry up and wait
My heart has started to separate

Oh, oh, oh
Be my baby
Oh, oh, oh
Oh, oh, oh
I'll look after you

There now, steady love, so few come and don't go
Will you, won't you be the one I always know?
When I'm losing my control, the city spins around
You're the only one who knows, you slow it down

Oh, oh, oh
Be my baby
Oh, oh, oh
Oh, oh, oh
I'll look after you

If ever there was a doubt
My love she leans into me
This most assuredly counts
She says most assuredly

Oh, oh, oh
Oh, oh, oh
Be my baby
I'll look after you

It's always have and never hold
You've begun to feel like home
What's mine is yours to leave or take
What's mine is yours to make your own

Oh, oh, oh
Oh, oh, oh
Be my baby
Oh, oh, oh

------------------------------------------------------

(be right back, penulis mau nangis dulu. fufufu romantis T_T tapi sayang semua yang terjadi malam itu tetep gak ngerubah status mereka. Mungkin emang mereka ditakdirin buat jadi temen aja. hiks hiks hiks... *terharu* i wish nothing but the best for both of you)